Makalah Evaluasi Pendidikan Non-Tes SD/MI Lengkap


ABSTRAK

Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Hasil Belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik melalui bentuk tes uraian maupun tes objektif, tetapi juga dapat dinilai oleh alat-alat nontes atau penilaian non-tes.
 Penilaian non-tes ini sangat berguna terutama pada evaluasi hasil pembelajaran yang berkaitan erat dengan kualitas pribadi, keterampilan yang hanya tepat dievaluasi melalui penampilan sebagai efek penguasaan domain keterampilan  Dengan penilaian non-tes maka penilaian atau evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan dengan tanopa “menguji” peserta didiik, melainkan dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung (observation), melakukan wawancara (interview), menggunakan skala sikap, daftar cek dan skala penilaian. 

Kata Kunci: Instrumen Evaluasi, Penilaian non tes


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Kegelisahan Akademik
Adalah merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu yang satu dengan individu lainnya. Tidak ada dua individu yang pesis sama baik dari segi fisik maupun psikisnya. Ini merupakan salah satu bukti keagungan Allah SWT atas segala ciptaan-Nya. Dan agar kita berbakti kepada-Nya.[1] Adanya perbedaan individual itu sudah barang tentu akan turut serta menentukan berhasil atau tidaknya individu-individu tersebut dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Senada dengan adanya perbedaan individu itu, perlu diciptakan alat untuk mendiagnosis atau mengukur keadaan individu, dan alat pengukur itulah yang lazim disebut tes.
Dalam kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar teknis tes inilah yang sering digunakan dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik..tetapi tidaklah harus diartikan bahwa tes adalah satu-satunya teknik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, karena hasil belajar dan proses belajar tidak hanya dinilai oleh tes, baik melalui bentuk uraian maupun tes objektif, tetapi juga dapat dinilai oleh alat-alat nontes atau bukan tes. Namun penggunaan nontes untuk menilai hasil belajar dan proses belajar masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan pengunaan tes dalam menilai hasil dan proses belajar. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini untuk menguraikan jawaban dari permasalahan tersebut.
B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana bentuk penilaian observasi?
2.      Bagaimana bentuk penilaian pedoman wawancara?
3.      Bagaimana bentuk penilaian skala sikap?
4.      Bagaimana bentuk penilaian daftar cek?
5.      Bagaimana bentuk penilaian skala penilaian?

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Observasi
1.    Pengertian Observasi
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan.[2]Dalam bukunya Mulyadi menyatakan, bahwa observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan sengaja melalui proses pengamatan dan pendekatan terhadap gejala-gejala yang diselidiki.[3] Sedangkan menurut Nana, observasi atau pengamatan sebagai alat penilaian banyak digunakan untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati, baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.[4] Jadi, Observasi adalah cara,teknik atau alat yang digunakan untuk mengukur atau mengumpulkan data secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang diamati, baik yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan.
2.    Fungsi Observasi
Fungsi observasi dalam penilaian non tes adalah untuk memproleh gambaran dan pengetahuan serta pemahaman mengenai diri murid, juga berfungsi untuk menunjang dan melengkapi bahan-bahan yang diperoleh melalui interview.[5] Dengan kata lain, observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan siswa, partisipasi siswa dalam simulasi, dan pengunaan alat peraga pada waktu mengajar. Melalui pengamatan dapat diketahui bagaimana sikap dan perilaku siswa, kegiatan yang dilakukannya, tingkat partisipasi suatu kegiatan, proses kegiatan yang dilakukannya.[6]

3.      Jenis-Jenis Observasi
Dalam pelaksanan observasi dapat dipilih beberapa model yang disesuaikan dengan objek yang diamati ataupun informasi yang diperlukan, Model-model yang dapat dipilih tersebut sering disebut dengan jenis-jenis observasi yang bervariasi. Dilihat dari keterlibatan pengamat dalam kegiatan atau gejala perilaku yang diamati. Dalam hal ini dikenal adanya observasi partisipan dan observasi non partisipan.[7]
a.       Observasi Partisipan
 Umumnya dipergunakan untuk penilaian yang bersifat eksplorasi. Suatu observasi disebut partisipasi bila observer turut mengambil bagaian dalam kehidupan observasi.[8]Keterlibatan pengamat yang terlalu mendalam dalam kegiatan yang diamati akan mengakibatkan observer mengikuti nilai dari kelompok yang diamati, sehingga tidak lagi melihat secara objektif gejala yang diamati. Keuntungan dari metode ini adalah, data yang diperoleh lengkap, dan tidak dibuat-buat. Sedangkan kelemahannya adalah hambatan ingatan dari pengamat, karena ketika melakukan pengamatan, perhatian pengamat terpecah karena peran ganda yang dimainkan baik sebagai pengamat dan pelaku kegiatan yang diamati.[9]
b.      Observasi Non Partisipan
Dalam observasi ini observer tidak melibatkan diri dalam kegiatan  atau sedang dialami orang lain.[10] Sehingga ketika evaluasi dilakukan oleh guru atau pengamat hanya murni sebagai pengamat. Pengamatan cara in akan menyebabkan observer lebih cermat melakukan pengamatan, tetapi data yang diperoleh belum tentu menunjukkan hal yang sebenarnya.[11]
Kemudian dilihat dari tingkat kejelasan objek atau gejala perilaku yang diamati, maka pembagian observasi dibagi menjadi dua yaitu:
a.         Observasi Sistematis
Pengamatan yang terencana, kegiatannya berstruktur, pokok-pokok yang akan diobservasi tersusun dengan baik, tahapan kegiatannya tersusun secara rinci, dan alat-alat pencatat data disiapkan terlebih dahulu.[12] Keunggulan dari model ini jalannya observasi sangat lancar, karena  telah dipersiapkan, sehingga dengan waktu yang singkat faktor-faktor yang diperlukan dapat teramati secara cermat, tetapi sangat mungkin muncul gejala yang sebenarnya penting, tetapi tidak terekam oleh penagamat karena terdapat dalam rancangan observasi sehingga lewat begitu saja.[13]
b.        Observasi Non Sistematis
Pengamatan dengan cara ini dilakukan tanpa terlebihi dahulu membatasi kerangka yang akan diamati, untuk itu pengamat dapat mengembangkan pengamatan sesuai dengan gejala atau informasi-informasi yang muncul dilapangan. Cara ini pada umumnya memerlukan waktu yang lebih panjang untuk dapat menangkap gejala dan informasi-informasi sebnayak mungkin. Karena tidak adanya pedoman terperinci, maka tuntutan kualitas sangat diperlukan.[14]  
Pembagian observasi yang didasarkan pada pengendalian unsur yang diamati, dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a.         Observasi Eksperimental
Adalah suatu observasi yang memiliki ciri yaitu membuat variasi situasi untuk menimbulkan tingkah laku tertentu, situasi ditimbulkan atau dibuat sengaja.[15]Maka diperlukan perencanaan dan persiapan yang benar-benar matang.[16]
b.        Observasi Non Eksperimental
Observasi model ini dapat diartikan sebagai observasi atau pengamatan terhapa gejala yang bersifat alamiah, tanpa adanya upaya peneliti atau penagmat untuk melakukan intervensi, mengendalikan atau dengan sengaja membuat stimulus dalam upaya memacu munculnya gejala yang diamati.[17]
Sedangkan menurut Nana dalam bukunya ada dua jenis observasi, yakni observasi langsung dan observasi dengan alat (tidak langsung). Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan  terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat. Sedangkan observasi tidak langsungdilaksanakan dengan menggunakan alat seperti mikroskop untuk mengamati bakteri, suryakanta untuk melihat pori-pori kulit. Berhasil-tidaknya observasi sebagai alat penilaian bergantung pada pengamat, bukan pada pedoman observasi. Oleh sebab itu, memilih pengamat yang cakap, mampu, dan menguasai segi-segi yang diamati sangat diperlukan.[18]

4.  Alat Pencatatan Observasi
1.    Anecdotal Records
Adalah suatu bentuk pengamatan berkala yang melukiskan tingkah laku atau kepribadian seseorang dalam pernyataan singkat dan objektif.
Jenis Catatan-catatan anekdot:
a.       Catatan Anekdot Deskriptif
Adalah suatu catatan anekdot yang menggambarkan tingkah laku yang terjadi tanpa disertai komentar atau interpretasi dari guru.
b.      Catatan Anekdot Interpretatif
Adalah suatu catatan anekdot yang menggambarkan tingkah laku atau situasi yang telah diobservasi oleh observer dengan didukung oleh fakta.
c.       Catatan Anekdot Evaluatif
Ialah berisi catatan yang menerangkan penilaian berdasarkan ukuran baik buruk, dapat diterima dan tidak dapat diterima.
2.      Cheklist (daftar Cek)
Adalah sebuah daftar yang memuat atau berisi aspek-aspek yang mungkin terhadap dalam suatu situasi, kegiatan maupun tingkah laku yang sudah menjadi fokus perhatian alat yang sedang diamati.
Fungsi daftar cek alam rangka observasi yang berkaitan dengan proses hubungan kenseling adalah sebagai alat pencatat hasil observasi situasi, tingkah laku ataupun kegiatan individu yang diamati.
Karakteristik daftar cek yang baik:
a.    Direncanakan secara sisematis
b.    Sesuai dengan yang ingin dicapai atau dirumuskan terlebih dahulu
c.    Berupa format yang efisien dan efektif
d.    Dapat diperiksa validitas, realibitas dan ketepatannya.
e.    Hasil pengecekannya diolah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
f.     Bersifat kuantitatif
3.      Rating Scale (Skala Penilaian)
Adalah pencatat gejala menurut tingkatan-tingkatannya. Dalam skala penilaian ini observer memberikan penilaian terhadap tingkah laku yang tercakup dalam skala yang telah disusun sebelumnya.
Jenis skala penilaian:
a.    Kuantitatif, biasanya digabungkan dengan beberapa pernyataan deskriftif mengenai sifat yang dapat dinilai menuru jumlah nilai.
b.    Grafis, biasanya terdiri atas suatu garis di mana penilai /observer memberikan tanda pada titik yang kiranya sangat mendekati penilaian atas individu.
c.    Deskriptif, biasanya mengemukakan sejumlah pernyataan yang menggambarkan berbagai tingkat keadaan, sifat atau ciri-ciri.
4.    Alat-alat Mekanisme (Mechanical Device)
Dalam observasi banak dpergunakan alat-alat mekanis, elektronis, dan optis. Alat-alat yang dipergunakan misalnya: kamera, tape recorder, video cassette, dan sebagainya.[19]
5.    Kelebihan dan Kekurangan Observasi
Di antara segi kelebihan yang dimilki oleh observasi yaitu:
a.       Data observasi itu diperoleh secara langsung di lapangan, dengan jalan melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik dalam melakukan sesuatu, sehingga denga demikian data tersebut dapat lebih bersifat objektif dalam melukiskan aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut keadaan yang senyatanya.
b.      Data hasil observasi dapat mencakup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu peserta didik dengan demikian maka di dalam pengolahannya tidak berat sebelah atau hanya menekankan pada salah satu segi saja dari kecakapan atau prestasi belajar mereka.
Adapun segi-segi kelemahannya di antara lain adalah bahwa:
1)      Observasi sebagai salah satu alat evalausi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh para pengajar.
2)      Kepribadian dari observer atau evaluator juga acapkali mewarnai atau menyelinap masuk ke dalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-prasangka yang mungkin melekat pada diri observatory (evaluator) dapat mengakibatkan sulit dipisahkannya secra tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamati.
3)      Data yang diperoleh dari kegiatan observasi umumnya baru dapat mengungkap “kulit luarnya saja”. Adapun apa-apa yang sesungguhnya terjadi di balik hasil pengamatan itu belum dapat diungkap secara tuntas hanya dengan melakukan observasi saja. Karena itu observasi harus didukung dengan cara-cara lainnya.[20]
Contoh:
PEDOMAN OBSERVASI
Topik diskusi              : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  .. . . .
Kelas/Semester            : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  .. . . .
Bidang Studi               : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  .. . . .
Nama Siswa
 yang Diamati              : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .  .. . . .

Aspek yang diamati
Hasil pengamatan

Ket.
Tinggi
Sedang
Kurang
1.      Memberikan pendapat untuk pemecahan masalah
2.      Memberikan pendapat orang lain
3.      ………………dst





B.       Wawancara (Interview)
1.      Pengertian Wawancara
            Wawancara adalah alat pengumpul data yang dilakukan secara bertatatap muka (face to face) bertujuan untuk menjaring data dan informasi murid dengan jalan bertanya secara lisan dan lansung kepada sumber data (murid) ataupun kepada orang lain.[21]Dalam bukunya Endang menjelaskan bahwa yang dimaksud wawancara adalah suatu proses tanya jawab sepihak antara pewawancara (interviewer) dan yang diwawancarai (interviewee), yang dilaksanakan sambil bertatap muka, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan maksud memperoleh jawaban dari interview.[22]
2.      Unsur-Unsur dalam Wawancara
Beberapa unsur dalam kegiatan wawancara yaitu:
a.       Proses tanya jawab sepihak antara interviewer dan interviewee artinya bahwa dalam proses dialog tersebut, responden tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan hanya diajukan oleh subjek evaluasi.[23]
b.      Proses tanya jawab dilaksanakan sambal tatap muka artinya dalam wawancara tersebutinterviewer dan interviewee saling bertatap muka satu sama lain
c.       Proses tanya jawab dilaksanakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dilaksanakn secara tidak langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain., misalnya orang tua atau teman  interviewee, sedangkan secara langsung dilakukan kepada interviewee yang langsung memberikan keterangan yang dibutuhkan.
d.      Proses tanya jawab dilaksanakan dengan menggunakan pedoman wawancara. Pedoman wawancara merupakan suatu daftar pertanyaan yang harus disusun sedemikian rupa sehingga dapat mengarahkan dan sesuai dengan masalah yang diperiksa dan dibutuhkaninterviewer.
3.      Penyusunan Pedoman Wawancara
Ø Persiapan:
a.     Menentukan tujuan wawancara
b.    Menetapkan bentuk-bentuk pertanyaan
c.    Menetapkan responden/Interviews yang betul-betul memiliki informasi
d.    Menetapkan jadwa wawancara
e.     Menetapkan jumlah responden
f.      Menghubungi responden
Ø Pelaksanan:
a.    Mengadakan seleksi dari berbagai pertanyaan sesuai dengan maksud dan tujuan.
b.    Mengadakan wawancara
Ø Penutup:
a.    Menyusun laporan hasil wawancara
b.    Mengadakan evaluasi apakah wawancara yang telah dilaksanakan itu cukup memadai
c.    Mengadakan bentuk diskusi tentang pelaksanaan wawancara[24]
4.      Aspek-Aspek dalam Wawancara
Ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam melaksanakan wawancara, yakni (a) Tahap awal pelaksanaan wawancara (b) penggunaan pertanyaan dan (c) pencatatan hasil wawancara
Tahap awal wawancara bertujuan untuk mengondisikan situasi wawancara. Buatlah situasi yang mengungkapkan suasana keakraban sehingga siswa tidak merasa takut, dan ia terdorong unuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan beanr atau jujur.
Setelah konsisi awal cukup baik, barulah diajukan pertanyaaan-pertanyaan sesuai dengan tujuan wawancara. Pertanyaan diajukan secara bertahap dan sistematis berdasarkan rambu-rambu atau kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya. Apabila pertayaan dibuat secara berstruktur, pewawancara membacakan pertanyaan dan kalua perlu, alternatif jawabannya. Siswa diminta mengemukakan pendapatnya, lalu pendapat siswa diklarifikasikan ke dalam alternatif jawaban yang telah ada. Bila wawancara tak berstruktur, baca atau ajukan pertanyaan, lalu siswa diminta menjawabnya secara bebas.
Tahap terakhir adalah mencatat hasil wawancara. Hasil wawancara sebaiknya dicatat saat itu juga supaya tidak lupa. Mencatat hasil wawancara berstruktur cukup mudah sebab tinggal memberikan tanda pada alternatif jawaban, misalnya melingkari salah satu jawaban yang ada.
Sedangkan pada wawancara terbuka kita perlu mencatat pokok-pokok isi jawaban siswa pada lembaran tersendiri. Yang dicatat adalah jawaban apa adanya dari siswa, jangan tafsiran pewawancara atau ditambah dan dikurangi.[25] 
Berikut contoh pedoman wawancara terbuka:
Tujuan                         : . . . . . . .
Bentuk                        : . . . . . . .
Responden                  : . . . . . . .
Nama Siswa                : . . . . . . .
Kelas/Semester            : . . . . . . .
Jenis Kelamin              : . . . . . . .

Pertanyaan Guru
Jawaban Siswa
Komentar dan Kesimpulan dari wawancara
1.    Kapan dan beberapa lama Anda belajar di rumah?
2.    Bagaimana cara Anda mempersiapkan diri untuk belajar secara efektif?
3.    Kegiatan apa yang Anda lakukan pada waktu mempelajari bahan pengajaran (bidang studi tertentu)



. . . . . . . . . . . . .  2016
Pewawancara

. . . . . . . . . . . . . . . . . .

5.      Jenis Wawancara (interview)
Ada dua jenis wawancara yang dapat dipergunakan sebagai alat evaluasi, yaitu:
a.       Wawancara terpimpin (guided interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstuktur (struktur interview) atau wawancara sistematis (systematic interview).
b.      Wawancara tidak terpimpin (un-guided interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancara sederhana (simple interview) atau wawancara tidak sistematis (non-systematic interview) atau wawancara bebas.
Dalam wawancara terpimpin, evaluator melakukan tanya jawab lisan dengan pihak-pihak yang diperlukan; misalnya wawancara dengan peserta didik, wawancara dengan orang tua atau wali murid dan lain-lain, dalam rangka menghimpun bahan-bahan keterangan untuk penilaian terhadap pesera didiknya.
Wawancara ini sudah dipersiapkan secara matang, yaitu dengan berpegang pada panduan wawancar (interview guide) yang butir-butir itemnya terdiri dari hal-hal yang dipandang perlu guna mengungkap kebiasaan sehari-hari dari peserta didik, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, keinginan atau cita-citanya, cara belajarnya, cara mengunakan waktu luangnnya, bacaannya dan sebagainya.
Wawancara juga dapat lengkapi dengan alat bantu berupa tape recorder (alat perekam suara), sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dapat dicatat dengan secara lebih lengkap. Penggunaan pedoman wawancara dan alat bantu perekam suara itu akan sangat membantu kepada pewawancara dalam mengkategorikan dan menganalisis jawaban-jawaban yang diberikan oleh pesera didik atau orang tua peserta didik untuk pada akhirnya ditarik kesimpulannya.
Dalam wawancara bebas, pewawancara selaku evaluator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta tertentu. Mereka dengan bebas mengemukakan jawabannya. Hanya saja pada saat menganalisis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini pewawancara atau evaluator akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Mencatat hasil wawancara terpimpin tidaklah terlalu sulit, sebab pewawancara sudah dilengkapi dengan alat bantu berupa pedoman wawancara. Sebaliknya menacatat hasil wawancara bebas jauh lebih sulit, dan oleh karenanya pewawancara harus terampil dalam mencatat pokok-pokok jawaban yang diberikan oleh para interview.[26]
6.      Kelebiihan dan Kekurangan Wawancara
Secara umum keunggulan dari metode ini di antaranya adalah:
a.         Penggunaan Bahasa verbal, sebagai alat komunikasi menyebabkan kecilnya hambatan yang bersumber dari kemampuan baca tulis, sehingga dapat pula dikenakan pada responden dalam segala usia, disamping itu bila terjadi kesalahan pahaman dalam penangkapan permasalahan yang ditanyakan, akan dapat segera diketahui dan diluruskan kembali.
b.         Dengan persyaratan face to face, maka akan dapat menjamin kelengkapan data yang diperoleh, karena secara bebas peneliti dapat terus menanyakan hal-hal yang dianggap tidak jelas.
Disamping berbagai kelebihan wawancara yang dimiliki, wawancara juga mempunyai kelemahan di antaranya adalah:
a.         Dalam pelaksanaannya wawancara memerlukan waktu yang panjang karena perlu mengatur pertemuan dan seringkali sangat sulit membatasi waktu da;lam situasi wawancara.
b.         Untuk mendapatkan data yang lengkap, sesuai dengan tujuan penelitian, pewawancara harus menguasai isi dan permasalahan penelitian, teknik bertanya dan berkomunikasi serta kemampuan berbahasa.
c.         Bila persyaratan kedua tidak terpenuhi, ada kemungkinan pewawancara “terbawa arus” pembicaraan sehingga kemudian interpretasi pewawancara terhadap data yang terkumpul, justru akan dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan esponden.
d.         Dalam kenyataan bukan yang mudah untuk dapat melakukan prekeman data, sekaligus memberikan penilaian pada hasil waancara.[27] 


C.      Skala Sikap (Attitude Scale)
Sikap berangkat dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang. Sikap dapat dibentuk untuk terjadinya perilaku atau tindakan yang diinginkan.[28]
Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu. Jika terdapat sikap siswa yang negatif, guru perlu mencari suatu cara atau teknik tertentu untuk menempatkan sikap negatif itu menjadi sikap yang positif.[29]
Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran  berbagai mata pelajaran adalah sebagai berikut.
1.    Sikap terahadap materi pelajaran,
2.    Sikap terhadap guru atau pengajar,
3.    Sikap terhadap proses pembelajaran,
4.    Sikap berkaitan dengan nilai-nilai atau norma-norma tertentu berhubungan dengan suatu materi pelajaran,
5.    Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan dengan mata pelajaran.
Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik. Teknik-teknik tersebut antara lain:
1.    Observasi Perilaku
Perilaku seseorang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam suatu hal. Misalnya, orang yang biasa minum kopi dapat dipahami sebagi kecenderungan yang senang kepada kopi. Oleh karena itu, guru dapat melakukan observasi terhadap peserta didik yang dibinanya.  Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan buku catatan khusus tentang kejadian-kejadian berkaitan dengan peserta didik selama di sekolah.
Contoh Isi Buku Catatan Harian:
No
Hari/Tanggal
Nama Peserta Didik
Kejadian (Positif atau Negatif)
1



2



3




Catatan dalam lembaran buku tersebut, selain bermanfaat untuk merekam dan menilai perilaku peserta didik sangat bermanfaat pula untuk menilai sikap peserta didik serta dapat menjadi bahan dalam penilaian perkembangan peserta didik secara keseluruhan.
Selain itu, dalam observasi perilaku dapat juga digunakan daftar cek (checklist) yang memuat perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul dari peserta didik pada umumnya atau dalam keadaan tertentu. Dibawah ini contoh format penilaian sikap.[30]

Contoh format Penilaian Sikap dalam Praktik IPA
No
Nama
Perilaku
Nilai
Keterangan
Bekerja sama
Berinisiatif
Penuh Perhatian
Bekerja Sistematis
1.
Ruri






2.
Tono






3.
Anisa






4.
Ilham







Catatan:
Kolom perilaku diisi dengan angka yang sesuai:
1 = sangat kurang                             4 = baik
2 = kurang                                         5 = amat baik
3 = sedang

2.    Pertanyaan Langsung
Kita juga dapat menanyakan secara langsung atau wawancara tentang sikap seseorang berkaitan dengan sesuatu hal. Misalnya, bagaimana tanggapan peserta didik tentang kebijakan yang baru diberlakukan di sekolah mengenai “Peningkatan Ketertiban”. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap. Dalam penilaian sikap peserta didik di sekolah, guru juga dapat menggunakan tehnik ini dalam menilai sikap dan membina peserta didik.
3.    Laporan Pribadi
Melalui penggunaan teknik ini di sekolah, peserta didik diminat membuat ulasan yang berisi pandangan atau tanggapannya tentang suatu masalah, keadaan, atau hal yang menjadi objek sikap. Misalnya, peserta didik diminta menulis pandangannya tentang “Kerusuhan Antaretnis” yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia.
Untuk menilai perubahan perilaku atau sikap peserta didik secara keseluruhan, khususnya kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kewarganegaraan dan kepribadian, estetika, dan jasmani, semua catatan dapat dirangkum dengan menggunakan Lembar Pengamatan berikut.[31]
Contoh: Lembar Pengamatan Terhadap Sikap
No
Deskripsi Perilaku Awal
Deskripsi perubahan
Capaian
Pertemuan...Hari/Tgl...
ST
T
R
SR















Keterangan:
a.     Kolom pencapaian diisi dengan tanda centang sesuai dengan perkembangan perilaku
ST = perubahan sangat tinggi
T = perubahan tinggi
R = perubahan rendah
SR = perubahan sangat rendah
b.     Informasi tentang deskripsi perilaku diperoleh dari:
1)    Pertanyaan langsung
2)    Laporan Pribadi
D.  Daftar Cek (Checklist)
Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (checklist). Daftar Cek (checklist) banyak digunakan oleh para guru karena dua alasan, yaitu daftar cek (checklist) paling sederhana cara pembuatannya, selain itu penggunaannya juga mudah sehingga dengan sedikit mendapat training, guru sudah bisa menggunakannya.[32] Daftar Cek (Checklist) adalah sebuah daftar yang memuat atau berisi aspek-aspek yang mungkin dilakukan dalam suatu situasi, kegiatan maupun tingkah laku yang sudah menjadi fokus perhatian atau yang sedang diamati.
Fungsi daftar cek (checklist) yaitu dalam rangka observasi yang berkaitan dengan proses hubungan konseling adalah sebagai alat pencatat hasil observasi situasi, tingkah laku ataupun kegiatan individu yang diamati.
Karakteristik daftar cek (checklist) yang baik seperti:
1.    Direncanakan secara sistematis;
2.    Sesuai dengan yang ingin dicapai atau yang dirumuskan terlebih dahulu;
3.    Berupa format yang efisien dan efektif
4.    Dapat diperiksa validitas, reliabilitas dan ketepatannya;
5.    Hasil pengecekannya diolah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai;
6.    Bersifat kuantitatif.[33]
Untuk mendapatkan daftar cek (checklist) yang baik, seorang guru perlu memperhatikan beberapa faktor penting dalam menyusun daftar cek (checklist). Berikut adalah beberapa langkah penting yang dianjurkan untuk mengembangkan dan mendapatkan daftar cek (checklist) yang baik, yaitu
1.    Identifikasi dan catat semua kriteria atau karakteristik yang diutamakan kriteria harus berkaitan langsung dengan kualitas subjek ayau objek yang dievaluasi.
2.    Edit semua item karakteristik secara teliti untuk memberikan konsistensi secara gramatik. Ini berarti bahwa setiap pernyataan harus sejenis dengan semua pernyataan. Jika satu item dalam bentuk kalimat atau pernyataan maka semuanya juga dalam bentuk kalimat.
3.    Kriteria atau perilaku diatur dalam sistematika logis. Item sejenis dikumpulkan sesuai dengan urutan yang dapat diobservasi sesuai dengan keadaan nyata.
4.    Semua item sebaiknya dinyatakan dalam cara yang sama, misalnya dalam kalimat positif atau kalimat negatif. Kombinasi antara kalimat positif dan kalimat negatif dengan jawaban ya atau tidak akan membingungkan siswa yang dievaluasi.
5.    Petunjuk atau arahan sebaiknya dinyatakan secara singkat atau ringkas, dan ditempatkan pada posisi sebelum item daftar cek (checklist).
6.    Proses pengecekan pada setiap tindakan/urutan nomor sedapat mungkin berurutan dan dapat dilakukan dengan cara sederhana.[34]
 Checklist dapat menjamin bahwa observer mencatat tiap-tiap kejadian yang dianggap penting. Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek, kemudian observer tinggal memberikan tanda cek (V) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamatannya.[35]
Pada prinsipnya, daftar cek (checklist) adalah metode mencatat apakah suatu karakteristik ada atau tidak ada pada suatu subjek atau objek yang dievaluasi. Pada proses penggunaannya, guru menyusun daftar kriteria, kemudian memberikan kepada siswa. Para siswa kemudian mengisi, apakah kriteria atau karakteristik yang diinginkan guru ada atau belum. Jika ada, kemudian ia memberikan tanda cek (V), sebaliknya akan dibiarkan kosong apabila kriteria atau karakteristik memang tidak ada atau belum ada.[36]
Contoh 1 : Checklist  tentang keaktifan siswa dalam berdiskusi kelompok pada bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

No
Nama Siswa
SB
B
C
K
SK
1
Tarmizi

V



2
Herlan


V


3
Mustofa
V




4
Desi

V



5
Tedi



V


Keterangan:
SB          : Sangat Baik
B             : Baik
C             : Cukup
K             : Kurang
SK           : Sangat Kurang

Contoh 2:
Tujuan : Menunjukkan kemampan siswa dalam pembelajaran matematika
Arahan : berilah tanda silang (X) pada kolom yang sesuai dengan kenyataan di kelas
No
Keterampilan Matematika untuk Tingkat Dasar
Ada
Tidak
1
Mengidentifikasi nilai pecahan


2
Membedakan antara pembilang dan penyebut


3
Menjumlahkan dua bilangan pecahan atau lebih


4
Mengurangi dua bilangan pecahan atau lebih


5
Menyamakan nilai pecahan kedalam bentuk desimal



Contoh 3: Format Penilaian Pidato Bahasa Indonesia (Menggunakan Daftar Tanda Cek)[37]
Nama Peserta Didik      : ..................
Kelas                              : ..................
No
Aspek yang Dinilai
Ya
Tidak
1
Berdiri Tegak


2
Memandang ke arah hadirin


3
Pronunciation baik


4
Sistematika baik


5
Mimik baik


6
Intonasi baik


7
Penyampaian gagasan baik


Skor yang dicapai

Skor maksimum
7

E.     Skala Penilaian
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan ini bisa dalam bentuk huruf (A, B, C, D), angka (4, 3, 2, 1), atau 10, 9, 8, 7, 6, 5. Sedangkan rentangan kategori bisa tinggi, sedang, rendah, atau baik, sedang, kurang.[38]
Contoh:
                                                SKALA PENILAIAN
                                    PENAMPILAN GURU MENGAJAR
Bidang Studi Yang Diajarkan: . . . . . . . . . . . . ..
 
Nama Guru: . . . . . . . . . . . . .. . . …               


No.

Pernyataan

Skala Nilai
A
B
C
D
1.
2.
3.
4.
5,
Penguasaan bahan pelajaran
Hubungan dengan siswa
Bahasa yang digunakan
Pemakalah metode dan alat bantu mengajar
Jawaban terhadap pertanyaan siswa





Keterangan:
A : baik sekali                            C : cukup
B : baik                                      D : kurang
Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah kriteria skala nilai, yakni penjelasan operasional untuk setiap alternative jawaban (A, B, C, D). Adanya kriteria yang jelas untuk setiap jawaban alternative jawaban akan mempermudah pemberian penilaian dan terhidar dari subjektivitas penilai. Tugas penilai hanya memberi tanda cek (V) dalam kolom rentangan nilai.
Skala nilai di atas bisa juga menggunakan kategori baik, sedang, dan kurang atau dengan angka 4, 3, 2, 1 bergantung pada keinginan penilai. Skala penilaian dapat menghasilkan data interval dalam bentuk skor nilai melalui jumlah skor yang diperoleh dari instrument tersebut. Dalam mencontih di atas skor maksimal adalah 20, diperoleh dari 5x4; skor minimal adalah 5, diperoleh dari 1 x 5.
Dalam skala kategori, penilai bisa membuat rentangan yang lebih rinci misalnya baik sekali, baik, sedang, kurang, dan kurang sekali. Ada satu model skala penilaian lain, yaitu skala penilaian komparatif. Dalam skala ini penilaian diminta melakukan penilaian dengan cara membandingkan subjek yang dinilai dengan posisi orang lain yang sejenis dengan cara membandingkan subjek yang nilai dengan posisi orang lain yang sejenis sebagai ukuran bandingan.
Contoh:
Guru yang Dinilai          : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .. . . . . . .
Mata pelajaran               : . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Kemampuan Guru
Text Box: Baik sekali
Text Box: Lebih baik dari guru lain



Text Box: Sama baiknya dengan rata-rata duru lainny
Text Box: kurang
Text Box: Lebih kurang dari guru lain
1.      Merencanakan proses belajar mengajar
2.      Penguasaan kelas
3.      . . . . . . . .. . .  . dst






                                                                                                   Penilai
                                                                                       . . . . . . . . . .. . . . . .. . .
Skala penilaian lebih tepat diguanakan untuk mengukur suatu proses, misalnya proses mengajar pada guru, proses belajar pada siswa, atau hasil belajar dalam bentuk perilaku seperti keterampilan, hubungan social siswa, dan cara memecahkan masalah.
Seperti halnya instrument yang lain, penyusunan skala penilaian hendaknya memerhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
2.    Berdasarkan tujuan tersebut, tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instrumen ini.
3.    Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan, misalnya nilai angka atau kategori.
4.    Buatlah item-item pernyataan yang akan dinilai dalam kalimat yang singkat tetapi bermakna secara logis dan sistematis.
5.    Ada baiknya menetapkan pedoman mengolah dan menafsirkan hasil yang diperoleh dari penilaian ini.
Skala penilaian dalam pelaksanaannya dapat digunakan oleh dua orang penilai atau lebih dalam menilai subjek yang sama. Maksudnya agar diperoleh hasil penilaian yang objektif mengenai perilaku subjek yang dinilai.[39]   

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Observasi adalah cara,teknik atau alat yang digunakan untuk mengukur data secara sistematis terhadap fenomena yang sedang diamati, baik yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Fungsi observasi dalam penilaian non tes adalah untuk memprolehgambaran dan pengetahuan serta pemahaman mengenai diri murid.
Wawancara adalah alat pengumpul data yang dilakukan secara bertatatap muka bertujuan untuk menjaring data dan informasi murid dengan jalan bertanya secara lisan dan lansung kepada sumber data (murid) ataupun kepada orang lain.
Sikap berangkat dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu/objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang.
Daftar Cek (Checklist) adalah sebuah daftar yang memuat atau berisi aspek-aspek yang mungkin dilakukan dalam suatu situasi, kegiatan maupun tingkah laku yang sudah menjadi fokus perhatian atau yang sedang diamati.
Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain oleh seseorang melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. Evaluasi Instruksional Prinsip-Teknik-ProsedurBandung: Remadja Karya. 1988.
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Rineka Cipta. 2012.
Hamzah, Satria Koni, Assessment Pembelajaran, Jakarta: PT Bumi Aksara. 2012.
Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, Malang: UIN-Maliki PRESS. 2010.
Poerwanti, Endang. Evaluasi Pembelajaran, Malang: UMM Pers. 2002.
Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, Yogyakarta: Graha Ilmu. 2012.
Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada. 2006.
Sudjana, Djudju. Evaluasi Program Pendiidikan Luar Sekolah: Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya MAnusia, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2006.
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Belajar Mengajar, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002.
Sukardi, Evaluasi Pembelajaran prinsip dan operasionalnya, Jakarta: PT Bumi Aksara. 2009.





[1] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 65.
[2] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 76.
[3] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 61.
[4] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 84.
[5] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 61.
[6] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung:  PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 84.
[7] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 63. 
[8] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 61.
[9] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 63. 
[10] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 77.
[11] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 64. 
[12] Djudju Sudjana, Evaluasi Program Pendiidikan Luar Sekolah: Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya MAnusia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), hlm. 200.
[13] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 64-65. 
[14] Ibid., hlm 65.
[15] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 61.
[16] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 76.
[17] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 66. 
[18] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 85.
[19] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 61-63.
[20] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 81-82.
[21] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah, (Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 63.
[22] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 55. 
[23] Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2012), hlm. 33.

[24] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah(Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm. 64.
[25] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 69-70.
[26] Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Pesada, 2006), hlm. 82-84.
[27] Endang Poerwanti, Evaluasi Pembelajaran, (Malang: UMM Pers, 2002).hlm. 61. 
[28] Satria Koni Hamzah, Assessment Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm. 29.
[29] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip-Teknik-Prosedur, (Bandung: Remadja Karya, 1988), hlm. 56.
[30] Satria Koni Hamzah, Assessment Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm. 29-31.
[31] Sudaryono, Dasar-Dasar Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Graha Ilmu. 2012), hlm. 80-81.
[32] Sukardi, Evaluasi Pembelajaran Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hlm.172.
[33] Mulyadi, Evaluasi Pendidikan: Pengembangan Model Evaluasi Pendidikan Agama di Sekolah(Malang: UIN-Maliki PRESS, 2010), hlm 62-63.
[34] Sukardi, Evaluasi Pembelajaran Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hlm.176.
[35] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip-Teknik-Prosedur. (Bandung: Remadja Karya, 1988), hlm. 60.
[36] Sukardi, Evaluasi Pembelajaran Prinsip Dan Operasionalnya, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009), hlm.173.
[37] Hamzah, Satria Koni, Assessment Pembelajaran, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), hlm. 20.
[38] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 77.
[39] Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 78-79.

Subscribe to receive free email updates: