Makalah tentang "AKHLAK TASAWUF"




BAB I
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Dalam pergaulan sehari-hari antara kita sesama manusia, agar hubungan ini berjalan dengan baik tentu ada aturan yang harus kita jalankan, bagi kita umat Islam tata cara bergaul tersebut telah diatur dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah SAW yang sering kita sebut dengan sifat terpuji atau akhlak terpuji.
Dalam pembahasan yang akan kami terangkan pada makalah ini, bahwa kami akan mengemukakan diantara bentuk-bentuk dari akhlak terpuji tersebut mulai dari pengertian sampai cara mengamalkannya dari akhlak terpuji tersebut.

Hal ini kami susun dalam bentuk makalah, disamping untuk menambah wawasan kami sebagai pemakalah mengenai pembahasan ini agar kami dan segenap pembaca lainnya mampu menjadikan ilmu ini sebagai salah satu rujukan dalam melakukan pergaulan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian juga pembahasan ini kami buat sebagai bentuk tugas dari mata kuliah materi akhlak tasawuf dan pembelajarannya di UIN Sunan Kalijaga dalam tugas kelompok yang disajikan dalam bentuk makalah.

RUMUSAN MASALAH
  1. Apa saja sifat-sifat terpuji dan pengertiannya?
  2. Bagaimanakah cara mengamalkan sifat-sifat terpuji?
TUJUAN PENULISAN
  1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang sifat-sifat terpuji.
  2. Mahasiswa mampu mengamalkan sifat-sifat terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
PEMBAHASAN

Macam-macam Sifat Terpuji

Az-Zuhd

Secara umum zuhd dapat diartikan suatu sikap melepaskan diri dari ketergantungan terhadap duniawi dengan mengutamakan kehidupan akhirat. Sementara itu menurut K.H. Ahmad rifa’i zuhd dalam terjemahan bahasa jawa adalah bertapa di dunia, menurut syara’ adalah bersiap-siap di dalam hati untuk beribadah memenuhi kewajiban yang luhur sebatas kemampuan menghindar dari dunia haram lahir dan batin menuju kepada Allah dengan mengharap kepada Allah untuk memperoleh surga-Nya. 

Maka dapat kita pahami dari uraian di atas bahwa zuhd merupakan kesediaan hati untuk melaksanakan ibadah dalam rangka memenuhi kewajiban-kewajiban syariat, meninggalkan dunia yang haram, dan secara lahir batin hanya mengharap rida Allah Swt. 

Zuhd bukan berarti mengosongkan tangan dari harta, tetapi mengosongkan hati dari ketergantungan pada harta.

Menurut Ibnu Taimiyah, zuhd ada dua macam, yaitu :
  1. Zuhd yang sesuai dengan syariat, adalah meninggalkan apa saja yang tidak bermanfaat di akhirat.
  2. Zuhd yang tidak sesuai dengan syariat, adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat menolong seorang hamba untuk taat beribadah kepada Allah.
Tanda-tanda orang yang telah memiliki sifat zuhd adalah:
  1. Senantiasa melakukan amal saleh.
  2. Jika bertambah ilmunya, maka harus bertambah pula sifat.
  3. Tidak tergiur dengan keduniawian, karena keduniawian merupakan tipu daya, godaan dan fitnah.
  4. Senantiasa berbuat untuk kepentingan akhirat, karena Allah berjanji akan memberikan kecukupan untuk kepentingan dunia dan agamanya.
  5. Tidak merasa tentram dan tenang jika ketika melihat yang wujud di dunia ini hatinya tidak hadir di hadapan Allah.
  6. Jika dipuji oleh manusia, maka hatinya menjadi susah karena khawatir kalau-kalau amal kebajikannya berubah menjadi riya’ dan haram.
Adapun keutamaan orang yang melakukan zuhd adalah :
  • Pahala amal ibadah yang dilakukan oleh seseorang zahid dilipat gandakan oleh Allah Swt.
  • Seorang zahid akan memperoleh ilmu dan petunjuk langsung dari Allah tanpa belajar.

Al-Qona’ah

Secara bahasa qona’ah artinya cukup. Sedangkan secara istilah qana’ah berarti merasa cukup dengan apa yang dimiliki dan menjauhkan diri dari sifat ketidakpuasan atau kekurangan. 

Qona’ah menurut K.H. Ahmad Rifa’i adalah hatinya tenang memilih rida Allah mengambil keduniawian sekedar hajat yang diperkirakan dapat menolong untuk memenuhi kewajiban (syariat) menjauhkan maksiat. 

Sifat qona’ah ini K.H. Ahmad Rifa’i mengaitkan dengan kefakiran (kemiskinan).
Keutamaan orang fakir yang memiliki sifat qona’ah sebagai berikut:
  1. Derajatnya lebih tinggi di hadapan Allah dibandingkan dengan orang kaya yang tidak memiliki sifat qona’ah.
  2. Lebih dulu masuk surga dibandingkan dengan orang kaya yang tidak memiliki sifat qona’ah meskipun sama-sama beribadah.
  3. Orang fakir sedikit memberi sedekah akan memperoleh pahala yang lebih besar dari pada orang kaya yang secara lahiriah banyak melakukan amal ibadah dan banyak sedekah, karena orang fakir itu memiliki sifat qona’ah artinya telah rida untuk berpaling dari keduniawian.

Al-Shabr

Shabr adalah salah satu sikap sufi yang fundamental bagi para sufi dalam usahanya untuk mencapai tujuan. Menurut K.H. Ahmad Rifa’, Shabr secara bahasa adalah menanggung kesulitan, 

menurut istilah berarti melaksanakan tiga perkara yang pertama menanggung kesulitan ibadah memenuhi kewajiban dengan penuh ketaatan, yang kedua menanggung kesulitan taubat yang benar menjauhi perbuatan maksiat lahir batin sebatas kemampuan, yang ketiga menanggung kesulitan hati ketika tertimpa musibah di dunia kosong dari keluhan yang tidak benar.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa sabar merupakan kemampuan diri dalam menghadapi berbagai macam kesulitan, antara lain:
  1. Kemampuan untuk menghadapi kesulitan dalam melaksanakan ibadah dan menunaikan kewajiban-kewajiban syariat dengan sungguh-sungguh.
  2. Kemampuan untuk menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat yang disertai dengan taubat baik secara lahir maupun batin.
  3. Kemampuan untuk menghadapi kesulitan ketika tertimpa musibah tanpa berkeluh kesah.
Orang mukmin yang sabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan akan memperoleh pahala yang tak terhingga dari sisi Allah Swt sesuai janji Allah dalam Q.S al-Zumar ayat 10 yang artinya:

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". orang-orang yang berbuat baik di dunia Ini memperoleh kebaikan. dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya Hanya orang-orang yang Bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.


Al-Tawakal

K.H. Ahmad Rifa’i mendenifisikan tawakal sebagai berikut, tawakal bukan berarti hanya pasrah kepada Allah tanpa melakukan ikhtiar dan meninggalkan usaha mencari rizki sekedarnya melainkan sebatas kemampuan tidak boleh tidak harus berusaha memerangi hawa nafsu lainnya yang mengajak kepada kerakusan terhadap dunia karena hal ini (rakus terhadap dunia) menjadi pasukan hawa nafsu sendiri juga menjadi fitnah yang sangat buruk dan tidak hilang tawakal seseorang yang berusaha mencari obat untuk menyembuhkan sakitnya juga wajib menolak maksiat mencari rizki untuk menolong ibadah.

Ungkapan di atas menunjukkan bahwa tawakal bukan berarti hanya pasrah menunggu ketentuan Allah tanpa melakukan ikhtiar serta meninggalkan usaha mencari rizki secara total.

Tetapi tawakal adalah berserah diri kepada Allah yang disertai dengan ikhtiar dan usaha mencari rizki seperlunya untuk keperluan ibadah kepada Allah, serta memerangi hawa nafsu yang mengajak kepada kesesatan dan ketamakan terhadap keduniawian, karena hal tersebut merupakan fitnah yang sangat buruk dan dapat membawa kesengsaraan manusia.

Oleh karena itu seseorang yang tertimpa musibah sakit, ia tidak boleh hanya berdiam diri menunggu ketentuan Allah, melainkan harus berusaha mencari obat terlebih dahulu, baru kemudian sepenuhnya kepada ketentuan Allah.

Al-Mujahadah

Mujahadah secara bahasa artinya bersungguh-sungguh terhadap suatu perbuatan yang dituju. Menurut istilah berarti bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah-perintah Allah memenuhi kewajiban dan meninggalkan kemaksiatan sekuat tenaga, baik secara lahir maupun batin.

Dengan kata lain, mujahadah berarti bekerja keras dan berjuang melawan keinginan hawa nafsu, berjuang melawan bujukan setan, dan berjuang menundukkan diri agar tetap di dalam batas-batas syara’ untuk menaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangannya.

Mujahadah juga tidak terbatas hanya memerangi musuh batiniah (hawa nafsu), akan tetapi juga mencakup bersungguh-sungguh dalam memerangi musuh lahiriah, yakni orang-orang kafir yang nyata-nyata hendak menghancurkan Islam. Memerangi orang kafir semacam ini merupakan kewajiban bagi setiap orang Islam.

Al-Rida

Rida menurut bahasa adalah menerima kenyataan dengan suka hati, sedangkan menurut istilah adalah menerima segala pemberian Allah dan menerima hukum Allah, yakni syariat wajib dilaksanakan dengan ikhlas dan taat dan menjauhi kejahatan maksiat dan menerima terhadap berbagai macam cobaan yang datang dari Allah dan yang ditentukan-Nya.

Dari ungkapan di atas dapat dipahami bahwa rida berarti menerima dengan tulus segala pemberian Allah, hukum-Nya (syariat), berbagai macam cobaan yang ditakdirkan-Nya, serta melaksanakan semua perintah dan meninggalkan semua larangan-Nya dengan penuh ketaatan dan keikhlasan, baik secara lahir maupun batin.

Al-Syukr

Syukur secara bahasa adalah senang hatinya, sedangkan menurut istilah adalah mengetahui nikmat-nikmat yang diberikan oleh Allah yakni nikmat iman dan taat yang maha luhur memuji Allah, Tuhan yang sebenarnya yang memberikan sandang dan pangan kemudian nikmat yang diberikan oleh Allah itu digunakan untuk berbakti kepada-Nya sekurang-kurangnya memenuhi kewajiban dan meninggalkan maksiat secara lahir dan batin sebatas kemampuan.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa inti syukr adalah mengetahui dan menghayati kenikmatan yang diberikan oleh Allah yang Maha Luhur. 

Oleh karena itu manusia wajib menghayati dan mensyukuri nikmat Allah, karena orang yang mensyukuri nikmat Allah, maka akan ditambah nikmatnya.
Adapun untuk mensyukuri nikmat ada tiga cara:
  1. Mengucapkan pujian kepada Allah dengan ucapan alhamdulillah.
  2. Segala kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya harus dipergunakan untuk berbakti (beribadah) kepada Allah.
  3. Menunaikan perintah-perintah syara’ minimal ibadah wajib dan meninggalkan maksiat dengan ikhlas lahir dan batin.

Al-Ikhlas

Ikhlas menurut bahasa artinya bersih, sedangkan menurut istilah berarti membersihkan hati agar ia menuju kepada Allah semata dalam melaksanakan ibadah, hati tidak boleh menuju selain Allah.

Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa ikhlas menunjukkan kesucian hati untuk menuju kepada Allah semata. Dalam beribadah, hati tidak boleh menuju kepada selain Allah, karena Allah tidak akan menerima ibadah seorang hamba kecuali dengan niat ikhlas karena Allah semata dan perbuatan ibadah itu harus sah dan benar menurut sara’. 

Rukun ikhlas dalam beribadah ada dua macam. Pertama, perbuatan hati harus dipusatkan menuju kepada Allah semata dengan penuh ketaatan. Kedua, perbuatan lahiriah harus benar sesuai dengan pedoman fikih.
K.H. Ahmad Rifa’i menggolongkan sifat ikhlas menjadi tiga tingkatan:
  1. Ikhlas ‘awwam, yakni seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah karena didorong oleh rasa takut menghadapi siksaan-Nya yang amat pedih, dan didorong pula oleh adanya harapan untuk mendapatkan pahala dari-Nya.
  2. Ikhlas khawwash, yakni seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah karena didorong oleh adanya harapan ingin dekat dengan Allah dan karena didorong oleh adanya harapan untuk mendapatkan sesuatu dan kedekatannya kepada Allah.
  3. Ikhlas khawwash al-khauwash, yakni seseorang yang melakukan ibadah kepada Allah yang semata-mata didorong oleh kesadaran yang mendalam untuk meng-Esakan Allah dan meyakini bahwa Allah adalah Tuhan sebenarnya, serta batin mengekalkan puji syukur kepada Allah.

Istiqomah

Istiqomah adalah teguh pendirian atau keteguhan berpegang teguh kepada sesuatu yang diyakini kebenarannya, dan ia tidak mau merubah keyakinan itu dalam keadaan bagaimanapun, baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan sendiri atau beramai-ramai dengan orang lain. Sikap istiqomah ini akan memberikan ciri khas kepada pribadi yang melakukannya dan menyebabkan orang lain segan dan menaruh hormat. 

Sikap istiqomah tercermin dalam firman Allah Swt QS. Fushshilat ayat 30 yang artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu".

Ayat tersebut menyatakan bahwa orang yang teguh dalam pendiriannya mengakui hanya Allah sebagai Tuhannya, akan mendapat jaminan ketenangan hidup, hilang rasa takut, sedih, putus asa dan lain sebaginya. Mereka yakin bahwa segala sesuatu di dunia ini hanya akan terjadi apabila ada izin Allah Swt.

Tasamuh

Secara bahasa tasamuh berarti toleransi, tenggang rasa atau saling menghargai, sedangkan 

secara istilah tasamuh adalah suatu sikap yang senantiasa saling menghargai antar sesama manusia. Sebagai makhluk sosial kita semua saling membutuhkan satu sama lain, karena masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan sesuai dengan potensi yang dimiliki. 

Dengan demikian perlu ditumbuhkan sikap toleran dan tenggang rasa agar senantiasa tergerak untuk saling menutupi kekurangan masing-masing. Dari sikap inilah akan terpancar rasa saling menghargai, berbaik sangka dan terhindar dari sikap saling menuduh antar teman.

Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat : 12-13 yang artinya:
  1. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
  2. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat di atas juga menjelaskan bahwa sikap toleransi tidak memandang suku dan ras. Karena mereka terpaut dalam satu keyakinan sebagai makhluk Allah di muka bumi. Di hadapan Allah semuanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Adapun yang membedakan mereka di hadapan Allah adalah prestasi taqwa.

Toleransi terdiri dari dua macam yaitu toleransi terhadap sesama muslim dan toleransi terhadap selain muslim. Toleransi terhadap sesama muslim merupakan suatu kewajiban, karena di samping sebagai tuntutan sosial juga merupakan wujud persaudaraan yang terikat oleh tali aqidah yang sama. Adapun toleransi terhadap non muslim mempunyai batasan-batasan tertentu selama mereka mau menghargai kita, tidak menyerang dan tidak mengusir kita dari kampung halaman. Mereka pun harus kita hargai karena pada dasarnya sama sebagai makhluk Allah SWT. Bersikap tasamuh bukan berarti kita toleran terhadap sesuatu secara membabi buta tanpa memiliki pendirian, tetapi harus dibarengi dengan suatu prinsip yang adil dan membela kebenaran. Kita tetap harus tegas dan adil jika dihadapkan pada suatu masalah baik menyangkut diri sendiri, keluarga ataupun orang lain.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Dari penjabaran yang telah diuarikan dalam materi diatas, dapat kita berikan kesimpulan bahwa macam-macam sifat terpujin itu ada beberapa bagian diantaranya yaitu: Az-Zuhd,Al-Qona’ah,Al-Shabr,Al-Tawakal,Al-Ikhlas,Istiqomah dan juga Tasamuh.

Macam-macam sifat terpuji tersebut memiliki sifat positif dari pergaulan yang kita lakukan, baik dalam melakukan hubungan yang  bersifat horizontal atau dalam melakukan hubungan dengan Allah SWT atau dalam melakukan hubungan atau bergaul antar sesama manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Nur, Akhlak Tasawuf, Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2013.
Tim Musyawarah Guru Bina PAI Madrasah Aliyah, Modul Hikmah Aqidah Akhlak, Sragen: CV. Akik Pustaka, 2011.

Subscribe to receive free email updates: