Makalah tentang "BERBAGAI PENDEKATAN DALAM STUDI ISLAM"


BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada awal tahun 1970-an berbicara mengenai penelitian agama dianggap tabu. Orang akan bertanya: kenapa agama yang sudah begitu mapan mau diteliti; agama adalah wahyu Allah. Sikap serupa juga terjadi di Barat. Dalam pendahuluan bukuSeven Theories Of Religion dikatakan, dahulu orang Eropa menolak anggapan adanya kemumgkinan meniliti agama. Sebab, antara ilmu dan nilai serta antara ilmu dan agama (kepercayaan), tidak bisa disinkronkan.


Namun gelombang perhatian terhadap agama belakangan ini meningkat tajam. Agama yang dalam kerangka positivisme disertakan dengan “mitos” dan karenanya diramalkan akan tenggelam dilibas kekuatan “ideologi” dan “ilmu pengetahuan”, kini kian menunjukkan nyalanya.

Ditinjau dari perspektif pendekatan yang digunakan, studi Islam menggunakan berbagai macam pendekatan, salah satunya pendekatan social humaniora. Hal ini sangat menarik untuk dikaji untuk mengetahui pendekatan apa saja yang digunakan untuk mengkaji islam. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai pendekatan social humaniora dalam studi Islam, penulis mencoba membahasnya dalam sebuah makalah yang berjudul “Berbagai Pendekatan Dalam Studi Islam”.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah pendekatan social humaniora dalam studi Islam?

C. TUJUAN

1. Mahasiswa mampu menjelaskan pendekatan social humaniora dalam studi Islam
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pendekatan Sejarah Dalam Studi Islam

Ditinjau dari sisi etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab syajarah (pohon) dan dari kata dalam bahasa inggris yang berarti cerita atau kisah. Sedangkan dalam bahasa Latin dan Yunani adalah historia yang berarti pengetahuan tentang gejala-gejala alam, khususnya manusia, yang bersifat kronologis.

Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang didalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. 

Secara lebih terinti ,Hugiono dan P.K. Poerwantana mendefinisikan sejarah sebagai rekontruksi peristiwa masa lampau yang dialami oleh manusia, disusun secara ilmiah, meliputi urutan waktu, diberi tafsiran dan dianalisis kritis, sehingga mudah untuk dimengerti dan dipahami.

Apabila sejarah digunakan sebagai sebuah pendekatan untuk studi islam, maka aneka ragam peristiwa keagamaan pada masa lampau umatnya akan dapat di bidik. Sebab sejarah sebagai suatu pendekatan atau metodologi akan dapat mengembangkan pemahaman bebagai gejala dalam dimensi waktu, dalam hal ini aspek kronologis merupakan ciri khas di dalam mengungkap suatu gejala agama atua keagamaan itu. Konsekuensi pendekatan sejarah di dalam penelitian terhadap gejala-gejala agama haruslah dilihat dari segi-segi prosesual, perubahan-perubahan (changes), dan aspek diakronis. Lebih dari itu, pendekatan sejarah secara kritis bukanlah sebatas dapat melihat peristiwa masa lampau dari segi pertumbuhan, perkembangan serta keruntuhan, melainkan juga mampu memahami gejala-gejala struktural serta faktor-faktor kausal lainnya atas peristiwa-peristiwa itu.

Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini maka seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya. Seseorang yang ingin memahami Al-Qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan harus memahami sejarah turunnya Al-Qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-Qur’an yang selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbah al-Nuzul ( Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Ayat Alquran) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat Al-Qur’an. Dengan ilmu ini seseorang akan dapat mengetahui hikmah yang terkandung dalam suatu ayat yang berkenaan dengan hukum tertentu, dan ditujukan untuk memelihara syari’at dari kekeliruan memahaminya.

2. Pendekatan Sosiologi Dalam Studi Islam

Sosiologi adaalah ilmu yang mempelajari hidup bersama dalam masyarakat dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang menguasai hidupnya itu. Sosiologi mencoba mengerti sifat dan maksud hidup bersama, cara terbentuk dan tumbuh serta berubahnya perserikatan-perserikatan hidup itu serta pola kepercayaannya, keyakinan yang memberi sifat tersendiri kepada cara hidup bersama itu dalam tiap persekutuan manusia. 

Sementara itu, Soerjono Soekanto mengartikan sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan penilaian. Sosiologi tidak menatapkan ke arah mana sesuatu seharusnya berkembang dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Di dalam ilmu ini juga dibahas tentang proses-proses sosial mengingat bahwa pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan bersama dari manusia. Dari dua definisi tersebut terlihat bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang menggambarkan tentang keadaan masyarakat lengkap dengan struktur, lapisan serta berbagai gejala sosial lainnya yang saling berkaitan.

Melalui pendekatan sosiologi, agama akan dapat dipahami dengan mudah karena agama itu sendiri diturunkan untuk kepentingan sosial. 

Dalam bukunya berjudul Islam Alternatif, Jalaluddin Rahmat telah menunjukkan betapa besarnya perhatian agama yang dalam hal ini islam terhadap masalah sosial, dengan mengajukan lima alasan sebagai berikut:

1. Pertama, dalam Al-Qur’an atau kitab-kitab hadits, proporsi terbesar kedua sumber hukum Islam itu berkenaan dengan urusan muamalah. Menurut Ayatullah Khomaeni dalam bukunya Al-Hukumah Al-Islamiyah yang dikutip Jalaluddin Rahman, dikemukakan bahwa perbandingan antara ayat-ayat ibadah dan ayat-ayat yang menyangkut kehidupan sosial adalah satu berbanding seratus – untuk satu ayat ibadah, ada seratus ayat muamalah (masalah sosial).
2. Kedua, bahwa ditekankannya masalah muamalah (sosial) dalam Islam ialah adanya kenyataan bahwa bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting, maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), melainkan dengan tetap dikerjakan sebagaimana mestinya.
3. Ketiga, bahwa ibadah yang mengandung segi kemasyarakan diberi ganjaran lebih besar dari pada ibadah yang bersifat seorangan. Karena itu shalat yang dilakukan secara berjamaah dinilai lebih tinggi nilainya dari pada shalat yang dikerjakan sendirian (munfarid).
4. Keempat, dalam Islam terdapat ketentuan bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal karena melanggar pantangan tertentu maka kifaratnya (tembusannya) adalah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial. Dalam hadis qudsi dinyatakan bahwa salah satu tanda orang yang diterima solatnya ialah orang yang menyantuni orang-orang yang lemah, menyayangi orang miskin, anak yatim, janda, dan yang mendapat musibah
5. Kelima, dalam Islam terdapat ajaran bahwa amal baik dalam bidang kemasyarakatan mendapat ganjaran lebih besar dari pada ibadah sunnah.

3. Pendekatan Antropologi Dalam Studi Islam

Pendekatan antropologis dalam memahami agama dapat diartikan sebgai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yanng tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Dengan kata lain bahwa cara-cara yang digunakan dalam displin ilmu antropologi dalam melihat suatu masalah digunakan pula untuk memahami agama. 

Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Dawam Rahardjo, lebih mengutamakan pengamatan langsung, bahkan sifatnya partisifatif. Dari sini timbul kesimpulan-kesimpulan yang sifatnya induktif yang mengimbangi pendekatan deduktif sebagaimana digunakan dalam pengamatan sosiologis. Penelitian antropologis yang induktif dan grounded, yaitu turun ke lapangan tanpa berpijak pada, atau setidak-tidaknya dengan upaya membebaskan diri dari kungkungan teori-teori formal yang pada dasarnya sangat abstrak sebagaimana yang dilakukan di bidang sosiologi dan lebih-lebih ekonomi yang mempergunakan model-model matematis, banyak juga memberi sumbangan kepada penelitian historis.  

Pendekatan antropologi dalam memahami agama dapat diartikan sebagai salah satu upaya memahami agama dengan cara melihat wujud praktik keagamaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat. Melalui pendekatan ini, agama tampak akrab dan dekat dengan masalah-masalah yang dihadapi manusia dan berupaya menjelaskan dan memberikan jawabannya. Antropologi dalam kaitan ini sebagaimana dikatakan Powam Rahardjo, lebih mengutamakan langsung bahkan sifatnya partisipatif.


4. Pendekatan Hermeneutika Dalam Studi Islam

Kata hermeneutik berasal dari kata kerja Yunani hermenuien yang berarti mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, bertindak sebagai penafsir. Meskipun terdapat beragam pendefinisian terhadap hermeneutik, secara umum dapat dikatakan bahwa hermeneutik merujuk pada teori penafsiran, baik yang ditafsirkan itu teks atau sesuatu yang diperlukan sebagaimana teks. Sebagai suatu metode penafsiran, dapat dikatakan bahwa hermeneutik adalah sebuah kajian yang membahas mengenai bagaimana menggunakan instrumen sejarah, filologi, manuskriptologi dan lain sebgainya sebagai sarana untuk memahami maksud dari suatu objek yang ditafsirkan.

Di sisi lain hermeneutik juga menggarap proses dan asumsi-asumsi yang berlaku dalam suatu pemahaman dan penafsiran tertentu sebagaimana dijelaskan dalam heremeneutika filosofis. Ini berarti, heremeneutik dalam dimensi filosofis mungkin lebih tepatnya epistemologisnya dapat didefiniskan sebagai “suatu pemahaman terhadap pemahaman”. Hermeneutika adalah suatu pemahaman terhadap pemahaman yang dilakukan oleh seseorang dengan menelaah proses asumsi-asumsi yang berlaku dalam pemahaman tersebut, termasuk diantaranya konteks-konteks yang melingkupi dan mempengaruhi proses tersebut. 

Setidaknya untuk dua tujuan: pertama, untuk meletakan hasil pemahaman yang dimaksud dalam porsi dan proporsi yang sesuai. Kedua, untuk melakukan suatu reproduksi makna dan pemahaman terdahulu tersebut dalam bentuk kontekstualisasi. Proses ini berlajut tanpa harus terjadi overlapping dalam pemahaman, karena pemahaman-pemahaman yang baru dalam kerangka-kerangka hermeneutika ini selalu mempertimbangkan konteks ketika pemahaman dilakukan.

Hermeneutik membuka makna yang sesungguhnya sehingga dapat mengurangi keanekan makna dari simbol-simbol yang ada guna mengungkap makna sesungguhnya di balik suatu teks/ nash. Kajian ini mencoba menegaskan bahwa memahami teks secara keseluruhan dan tidak sepotong-potong merupakan hal terpenting untuk mengetahui semangat dan kebenaran keterjalinan antar ayat dalam Alquran. Cara hermeneutik merupakan cara yang relatif dapat memberikan keutuhan teks dan konteks di dalam memahami kitab suci tersebut. Metode ini dipakai Rahman untuk memahami teks-teks kitab suci, sejarah, hukum, dan filsafat. Rahman memakai metode ini lebih kepada menafsirkan Islam normatif (Alquran).

Setidaknya ada dua langkah Rahman dalam mengoperasionalkan metode hermeneutiknya, pertama, berpegang teguh pada prinsip-prinsip umum kandungan Alquran, dan kedua, mempertimbangkan latar belakang masalah atau situasi objektif masa turunnya Alquran ketika direspon atas situasi objektif. Di sinilah sesungguhnya urgensinya hermeneutik dalam studi Islam itu dilakukan.

5. Pendekatan Filologi Dalam Studi Islam

Tampaknya penelitian agama memang tidak dapat dipisahkan dari aspek bahasa, karena manusia adalah makhluk berbahasa sedangkan doktrin agama dipahami, dihayati dan disosialisasikan melalui bahasa. Sesungguhnya pengertian bahasa amat luas dan beragam seperti bahasa isyarat, bahasa tanda, bahasa bunyi, bahkan bahasa manusia, bahasa binatang dan bahasa alam. Melalui bahasa manusia dan makhluk-makhluk lain dapat berkomunikasi.

Pembahasan berikut ini mengenai pengertian bahasa yang dipersempit dan diartikan sebagai kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau memerintah. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa merasakan perbedaan antara bahasa iklan, bahasa politik, bahasa ilmu pengetahuan maupun bahasa obrolan penuh persahabatan.

Jika kita memahami sebuah wacana hanya dari segi ucapan literalnya, maka kita bukannya disebut orang jujur dan lugu, melainkan orang yang bodoh dan tidak komunikatif sebagai makna sebuah kata ataupun kalimat selalu berkaitan dengan konteks. Hal demikian juga terjadi dalam bahasa agama, karena di dalam bahasa agama banyak digunakan bahasa simbolik dan metaforik, maka kesalahpahaman untuk menangkap pesan dasarnya mudah terjadi. Sekaligus untuk menghindari kesalahpahaman, sebaiknya kita sepakati lebih dahulu apa pengertian bahasa agama serta apa saja cakupan masalahnya. Istilah bahasa agama menunjuk pada tiga macam bidang kajian dan wacana. Pertama, ungkapan-ungkapan  yang digunakan untuk menjelaskan obyek pemikiran yang bersifat metafisi, terutama tentang Tuhan. Kedua, bahasa kitab suci terutama bahasa Al-Qur'an dan Ketiga bahasa ritual keagamaan.

6. Pendekatan Fenomenologi Dalam Studi Islam

Fenomenologi merupakan salah satu pendekatan yang unik di antara banyak pendekatan dalam studi islam. Namun sebenarnya ditinjau dari sisi sejarah, fenomenologi sebenarnya telah lama digunakan. Sejak zaman Edmund Husserl (1859-1938), arti fenomenologi telah menjadi filsafat dan metode berpikir. Phenomenon bukan lagi sekedar pengalaman langsung, melainkan pengalaman yang telah mengimplisitkan penafsiran dan klarifikasi. Mulai tahun 1970-an, fenomenologi mulai banyak digunakan oleh berbagai displin ilmu sebagai pendekatan metodologik.

Dalam pandangan Husserl, fenomenologi adalah suatu disiplin filsafat yang solid dengan tujuan membatasi dan melengkapi penjelasan psikologis murni tentang proses-proses pikiran. Apa yang menjadi obyek studi fenomenologi dalah perbedaan berbagai bidang objek, yang disebut noemata, yaitu ciri-ciri yang membuat kesadran orang menjadi kesadaran terhadap objek-objek.


Pandangan Husserl dalam kontruksi fenomenologinya diikuti oleh para penerusnya meskipun tidak sepenuhnya menyepakati apa yang menjadi dasar-dasar oemikiran Husserl. Menurutnya, realitas membutuhkan cara berada manusia di dalam mengamati sekelilinganya, jadi realitas tidak terpisah begitu saja dari faktor manusianya. Tegasnya, sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia. Noemena membutuhkan tempat tinggal, ruang untuk berada, dan itu adalah pikiran manusia.

Dalam konteks studi agama, pendekatan fenomenologi tidak bermaksud untuk memperbandingkan agama-agama sebagai satuan-satuan besar, melainkan menarik fakta dan fenomena yang sama dijumpai dalam agama-agama yang berlainan, mengumpulkan dan mempelajarinya per kelompok. Dalam fenomenologi, mempertimbangkan fenomena agama bukan hanya dalam konteks histori, melainkan juga dalam hubungan struktural.

Pada intinya, ada tiga tugas yang harus dipikul oleh fenomenologi agama, yaitu: pertama mencari hakikat ketuhanan. Kedua, menjelaskan teori wahyu. Dan ketiga,meneliti tingkah laku keagamaan. Sedangkan bidang garap fenomenologi adalah: pertama, menerangka apa yang sudah diketahui yang terdapat dalam sejarah agama, tetapi dengan caranya sendiri. Fenomenologi agama tidak membedakan dirinya dengan macam-macam agama. Kedua, fenomenologi berusaha menyusun bagian pokok agama atau sifat alamiah agama, yang juga merupakan faktor penamaan dari semua agama. Ketiga, fenomenologi tidak mempersoalkan apakah gejala keagamaan itu benar, apakah bernilai, dan bagaimana dapat menjadi demikian, atau menentukan lebih besar atau kecilnya nilai keagamaan mereka. Sekali pun ia berusaha untuk menentukan nilai keagamaannya, ini adalah nilai yang dimiliki oleh pemeluk-pemeluk agama itu sendiri, dannilai semacam ini tidak pernah bersifat relatif, tetapi selau absolut. Oleh karena itu, titik berat yang dibicarakannya adalah bagaimana kelihatannya, dan dengan cara apa (bagaiman) ia menampakkan diri kepada kita.

Dengan melihat pada bidang garap sebagaimana diuraikan di atas, maka secara khusus dapat kita cermati bahwasannya yang menjadi objek fenomenologi adalah:
1. Menemukan intisari.
2. Menemukan struktur.
3. Mencari inner meaning.
4. Membuat klasifikasi, tipologi dan penyisteman fenomena.
5. Membuat motif dasar.
6. Mencari alur perkembangan gejala dari waktu ke waktu.




BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Yang dimaksud dengan pendekatan dalam konteks studi islam adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Untuk memahami agama secara mendalam  banyak pendekatan yang dapat dilakukan. Hal demikian perlu dilakukan, karena pendekatan tersebut kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan oleh penganutnya. Dalam ilmu-ilmu social humaniora terdapat banyak pendekatan yang digunakan dalam memahami agama Islam. Diantaranya adalah pendekatan sejarah, sosiologis, antropologi, hermeneutika, filologi, dan fenomenologi.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama: Suatu Pengantar. Yogyakarta : TIARA WACANA, 2004.
Mudzahar, Atho, Pendekatan Studi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.
Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007
Naim, Ngainun, Pengantar Studi Islam. Yogyakarta:Teras, 2009.
Darmawan, Andy dkk, Pengantar Studi Islam. Yogyakarta : Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2005.
Prastowo, Andi. HANDOUT Pengantar Studi Islam. Yogyakarta: FITK UIN Sunan Kalijaga. 2014.

Subscribe to receive free email updates: