Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makalah Pembelajaran Tematik SD/MI Lengkap


ABSTRAK

Pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang menggabungan beberapa mata pelajaran yang kemudian digabung menjadi satu sehingga menjadi suatu tema yang saling berkaitan. Mengacu pada ketiga kompetensi tersebut, dalam pelaksanaan pembelajaran pun harus disetting sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi tujuan pembelajaran dapat tercapai.


 Makalah ini akan membahas tentang pelaksanaan pembelajaran tematik-terpadu yang terbagi dalam pendahuluan, inti dan penutup  serta  prinsip yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran tematik-terpadu yang terdiri atas berpusat pada peserta didik, pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik, menggunakan prinsip belajar yang menyenangkan, pembelajaran peserta didik aktif, mengawali pembelajaran dengan mengesankan, memberikan informasi yang jelas, sistematis, dan interaktif, memberikan penguatan secara tepat dan proporsional, menciptaka variasi dan gaya mengajar, memberikan penutup yang bermakna,bermuatan nilai, estetika, logika, dan kinestetika.
Kata kunci: Pembelajaran tematik-terpadu ,Pelaksanaan, Prinsip

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat serta karunianya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Pelaksanaan Pembelajaran Tematik-Terpadu”. Makalah ini disusun sebagai tugas makalah kuliah Pembelajran Tematik yang diampu Team Teaching.
Makalah ini dapat selesai dengan baik dan tepat waktu berkat bantuan dari berbagai pihak:
  1. Team Teaching selaku dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran Tematik.
  2. Orang tua yang selalu memberikan do’a dan semangat.
  3. Teman-teman PGMI semester IV.
  4. Semua pihak yang telah membantu.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Namun, penyusun berharap bahwa makalah ini memliki manfaat bagi penyusun dan pembaca pada umumnya. Penyusun juga mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca sehingga selanjutnya penyusun dapat menyusun makalah dengan baik dan benar.

Yogyakarta, April 2016

Penyusun,


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

K-13 diterapkan pertama kali pada tahun 2013. Kurikulum ini adalah pengembangan dari kurikulum sebelumnya, yang menjadi titik tekan pada Kurikulum 2013 ini adalah adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kemudian, kedudukan kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berubah menjadi pelajaran dikembangkan dari kompetensi. Dapat dipahami bahwa Kurikulum 2013 pula pada proses pembelajaran tematik seperti yang tercantum dalam Permendikbud No. 57 Tahun 2014, bahwa setiap mata pelajaran disajikan dengan tema.

Selain itu, pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (Learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar siswa. Pengalaman belajar menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Ketrehubungan tiap mata pelajaran yang akan dipelajari akan membentuk sebuah tema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dari pengetahuan tersebut atau bersifat holistik. 

Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa belajar tidak pernah akan berhasil dalam arti yang sesungguhnya bila dilakukan dalam suasan yang menakutkan.Belajar hanya akan efektif bila suasananya suasana hati peserta didik berada dalam kondisiyang menyenangkan.[1] Artinya dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran yang akan diberikan kepada peserta didik. Startegi dan metode pembelajaran yang ideal ialah strategi maupun metode pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, efektif, dan efisien serta memiliki kebermaknaan bagi peserta didik.

Masalah pelaksanaan pembelajaran, tentu tidak terlepas dari Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Yang telah dibuat. Sebab, RPP merupakan gambaran atau perencanan singkat tentang pembelajaran yang akan dilaksanakan. Dengan kata lain RPP adalah acuan utama dalam melaksanakan pembelajaran. Oleh karenanya, seorang guru wajib mempersiapkan RPP terlebih dahulu, setelah semuanya siap baru kemudian melaksanakan pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
  1. Bagaimana tahapan pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu?
  2. Bagaimana prinsip pelaksanaan pembelajaran tematik-terpadu?
C. Kerangka Teori

Pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menggabungkan beberapa KD dan indikator dari beberapa mata pelajaran sehingga menjadi satu tema pelajaran.[2] Pada pasal 11 ayat 1 dalam Permendikbud No. 57 Tahun 2014  tentang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah  dikatakan bahwa, pelaksanaan pembelajaran pada Sekolah Dasar/Madrasah dilakukan dengan pendekatan pembelajaran tematik-terpadu.[3]

Dalam Permendikbud No. 103 Tahun 2014 dijelaskan pula bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antar peserta didik, antara peserta didik dengan tenaga pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan suatu proses pengembangan potensi dan pembangunan karakter setiap peserta didik sebagia hasil dari sinergi antara pendidikan yang berlangsung disekolah, keluarga dan masyarakat. Proses tersebut memberikan kesempatan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap (spritual dan sosial), pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dirinya untuk hidup dan untuk bermasyarakat, berbangsa, serta berkontribusi pada kesejahteraanhidup umat manusia.[4]

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang lebih menekankan untuk tercapainya kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang semuanya terangkum dalam kompetensi hardskill dan softskill. Mengacu pada ketiga kompetensi tersebut, dalam pelaksanaan pembelajaran pun harus disetting sedemikan rupa sehingga apa yang menjadi tujuan utama pembelajaran dapat tercapai.

BAB II

A. Pelaksanaan Pembelajaran Tematik-Terpadu

Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Dengan kata lain RPP adalah acuan utama dalam pelaksanaan pembelajaran. Dijelaskan dalam Permendikbud No. 57 tahun 2014  tentang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan  dalam Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah bahwasannya, pelaksanaan pembelajaran tematik terbagi menjadi tiga, yaitu kegiatan pendahuluan (awal), kegiatan inti dan kegiatan penutup (akhir). Ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya.

Ditegaskan pula oleh Trianto, bahwa pelaksanaan pembelajaran tematik-terpadu setiap hari dilakukan dengan menggunakan tiga tahapan kegiatan, yaitu kegiatan pembukaan atau pendahuluan (alokasi waktu 5-10% atau sekitar 35 menit untuk satu jam pelajaran), kegiatan inti (alokasi waktu 80% atau sekitar 105 menit untuk satu jam pelajaran), dan kegiatan penutup (alokasi waktu 10-15% atau sekitar 35 menit untuk satu jam pelajaran).[5]
Secara prosedural langkah-langkah kegiatan yang ditempuh diterapkan ke dalam tiga langkah sebagai berikut.
  1. Kegiatan Pendahuluan (awal)
Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran tematik-terpadu.[6]
Pada kegiatan pendahuluan siswa diajak untuk berkonsentrasi saat memulai pelajaran dengan cara memotivasi untuk semangat bisa dikombinasikan dengan ice breaking. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan gambaran awal tentang materi yang akan dipelajari. Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan. Pada tahap ini siswa bisa ditanyai sampai manakah pemahaman awal mereka tentang tema yang akan dibahas. Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani sesuai dengan tema, bernyanyi, bernyanyi sambil menari mengikuti irama musik, dan menceritakan pengalaman.[7]
Dijelaskan dalam Permendikbud No. 103/2014 bahwa dalam kegiatan ini guru dapat melakukan hal-hal sebagai berikut:[8]
  1. Mengondisikan suasana belajar yang menyenangkan;
  2. Membahas kompetensi sudah dipelajari sebelumnya kemudian dikaitkan dengan kompetensi yang akan dipelajari selanjutnya bersama siswa;
  3. Memberitahukan kepada siswa tentang manfaat kompetensi yang hendak dicapai;
  4. Menyampaikan garis besar cakupan materi dan kegiatan yang akan dilakukan; dan
  5. Menyampaikan lingkup dan teknik penilaian yang akan digunakan.
Sedangkan dalam bukunya, Andi menjelaskan bahwa kegiatan pendahuluan ini dapat dilakukan dengan contoh seperti berikut:[9]
  1. Guru membuat kaitan dengan cara bertanya jawab tentang apa yang telah dipelajari dan hubungannya dengan yang akan dipelajari.
  2. Guru mengaitkan apa yang akan dipelajari dengan peristiwa disekitar atau yang sedang dialami siswa.
  3. Guru menunjukkan peristiwa aktual dan bertanya jawab tentang kaitannya dengan apa yang akan dipelajari.
  4. Guru melakukan gerakan atau bernyanyi yang sesuai dengan apa yang akan dipelajari.
  5. Guru bercerita atau membuat visualisasi yang menarik. Guru menyediakan cerita fiksi, gambar, grafik, atau alat visual lain yang relevan dan menarik perhatian siswa terhadap apa yang akan dipelajari.
  6. Guru mengajukan permasalahan yang terkait dengan pelajaran yang akan disampaikan.
  7. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, sehingga mereka termotivasi untuk mengikuti pelajaran.
Dalam kegiatan pendahuluan ini bersifat fleksibel. Artinya, guru dapat menyesuaikan dengan kondisi kelas masing-masing. Dalam pendahuluan yang terpenting ialah motivasi belajar dan menyampaikan tujuan pembelajaran serta memberikan stimulus mengenai materi yang akan dipelajari. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik betul-betul siap dalam mengikuti proses pembelajaran.[10]
  1. Kegiatan Inti
Kegiatan inti merupakan pelaksanaan pembelajaran yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik. (learning experience). Kegiatan pembelajaran tematik bersifat situasional, yakni disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat. Selain itu, Trianto menyatakan bahwa dalam pembelajaran teamatik SD/MI ditekankan pada kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung.[11]
Sedangkan Daryanto menjelaskan, bahwa kegiatan inti dilakukan dengan menggunakan metode yang disesuaikan karakteristik siswa dan mata pelajaran yang diberikan meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.[12]

Kegiatan inti difokuskan pada kegiatan-kegiatan yang bertujuan     untuk pengembangan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam rangka pengembangan Sikap, maka seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong peserta didik untuk melakukan aktivitas melalui proses afeksi yang dimulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Untuk kompetensi pengetahuan dilakukan melalui  aktivitas mengetahui, memahami,  menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Untuk kompetensi keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya,  mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. [13] 

Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan proses mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/mencoba, menalar atau mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Dalam proses pembelajaran guru harus mengamati  perkembangan sikap peserta didik pada kompetensi dasar dari KI-1 dan KI-2 [14]

Selain itu, dalam kegiatan pembelajaran terkadang  juga diperlukan latihan. Latihan yang dilakukan oleh siswa diikuti dengan bimbingan dan koreksi atas kesalahan yang dibuatnya, serta petunjuk cara memperbaikinya dari guru. Latihan ini diulang seperlunya hingga siswa dapat menyelesaikannya dengan benar tanpa bantuan guru. Tiga proses dalam kegiatan inti yang meliputi eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi dijelaskan secara detail sebagai berikut:[15]

Kegiatan Eksplorasi

Dalam kegiatan eksplorasi, guru melakukan sejumlah kegiatan, di antaranya sebagai berikut:
1) Guru dan siswa belajar dari aneka sumber alam. Artinya, semua yang terkambang dialam semesta atau lingkungan sekitar menjadi alat pembelajaran.
2) Guru menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media, dan sumber belajar lain.
3) Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa serta antara siswa dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar.
4) Guru melibatkan siswa secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
5) Guru memfasilitasi siswa melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Adapun macam-macam alternatif kegiatan eksplorasi adalah membaca tentang; mendengar tentang; berdiskusi tentang; mengamati model (teks atau karya); mengamati demonstrasi; mengamati simulasi kasus; mencoba melakukan kegiatan tertentu; talk show; wawancara dengan sumber tertentu; observasi terhadap lingkungan; mencoba bereksperimen; bernyayi (berkaitan dengan konsep yang akan dibahas); dan bermain (berkaitan dengan konsep yang akan dibahas).

Kegiatan Elaborasi

Dalam kegiatan ini, guru melakukan hal-hal seperti berikut:
1) Guru membiasakan siswa membaca dan menulis, melalui beragam tugas yang bermakna.

2) Guru memfasilitasi siswa melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru, baik secara lisan maupun tulisan.

3) Guru memberikan kesempatan siswa untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.

4) Guru memfasilitasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif.

5) Guru memfasilitasi siswa berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar.

6) Guru memfasilitasi siswa membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis dan secara individual maupun kelompok.

7) Guru memfasilitasi siswa melakukan pameran, turnamen, dan festival, untuk produk yang dihasilkan.

8) Guru memfasilitasi siswa melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggan dan rasa percaya diri siswa.

Adapun macam-macam alternatif kegiatan elaborasi adalah diskusi/mandiri; mengidentifikasi ciri; menemukan konsep; melakukan generalisasi; mencari bagian-bagian; mendeskripsika persamaan dan perbedaan; memasukkan dalam kelompok yang mana (memilah-milah); membandingkan dengan dunia nyata atau pengetahuan yang telah dimiliki; menganalisi mengapa terjadi begini atau begitu dari hasil eksperimen; mengidentifikasi apa yang salah/benar; mengurutkan; mengelompokkan; mengombinasikan; menghubung-hubungkan; memasangkan contoh dan bukan contoh; serta menyusun  mana yang berhubungan dan tidak.

Kegiatan Konfirmasi

Dalam kegiatan ini, guru dapat melakukan setidak-tidaknya empat kegiatan, yaitu:
1) Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan siswa.
2) Guru memberikan jawaban dan tambahan terkait hasil temuan siswa dalam belajar.
3) Guru memfasilitasi siswa melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
4) Guru memfasilitasi siswa untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai KD tersebut:

a) Membantu siswa yang mengalami kesulitan saat proses belajar-mengajar
b) Membantu menyelesaikan masalah.
c) Memberi acuan agar siswa dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi.
d) Memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh.
e) Memberi motivasi kepada siswa yang kurang atau belum berpartisipasi dengan aktif.

Macam-macam alternatif kegiatan konfirmasi yang bisa dilakukan guru antara lain menyimpulkan; memberikan umpan balikyang harus dikerjakan siswa; penjelasan mengapa salah; penjelasan yang benar dan salah; meluruskan yang salah; menegaskan benar; melanjutkan atau menambahkan yang kurang; menyimpulkan konsep, kriteria, dan cara mencapai yang lebih baik; memperluas contoh yang benar; dan menciptakan rubrik.
  1. Kegiatan Penutup (akhir)
Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan dan melakukan refleksi dalam rangka evaluasi. Evaluasi yang dilakukan mengkhususkan pada seluruh  rangkaian  aktivitas  pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh  dan yang selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung; Kegiatan penutup berfungsi untuk memberikan feed back tentang proses dan hasil yang telah peserta didik capai; memberikan tugas dan menginformasikan pembelajaran yang akan dipelajari dipertemuan selanjutnya.[16] Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin.[17]

Sedangkan dalam permendikbud No. 103/2014 beberapa aktivitas yang dapat dilakukan pada saat kegiatan akhir ini adalah sebagai berikut:[18]

1)      Kegiatan guru bersama peserta didik yaitu:

a) membuat rangkuman/simpulan pelajaran;
b) melakukan refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan; dan
c) memberikan feed back tentang proses dan hasil yang telah peserta didik capai

2)      Kegiatan guru yaitu:

a) melakukan penilaian;
b) merencanakan pembelajaran remedial, pengayaan, layanan konseling dan memberikan tugas sesuai dengan hasil belajar peserta didik; dan
c) menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.

Berhasil tidaknya pelaksanaan pembelajaran diatas sangat bergantung bagaimana interaksi antara guru dan peserta didik maupun antar peserta didik itu sendiri berjalan dengan aktif.[19] Dengan demikian sifat dari kegiatan penutup adalah menenangkan. 
Contoh Jadwal pelaksanaan pembelajaran tematik perhari dapat dijabarkan menjadi:[20]
Kegiatan
Jenis kegiatan
Kegiatan Pembuka
Anak berkumpul bernyanyi sambil menari mengikuti irama musik
Kegiatan Inti
Kegiatan untuk pengembangan membaca
Kegiatan untuk pengembangan menulis
Kegiatan untuk pengembangan berhitung
Kegiatan Penutup
Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita



Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Tematik-Terpadu

Prinsip Pelaksanaan Pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran Tematik terpadu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:[21]
  1. Berpusat pada peserta didik. Pembelajaran berpusat pada peserta didik dan guru bertugas membantu dan mendampingi peserta didik. Bersifat fleksibel Pembelajaran tematik bersifat luwes. Guru dapat mengaitkan materi dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan keadaan lingkungan di mana sekolah dan peserta didik berada.
  2. Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
  3. Menggunakan prinsip belajar yang menyenangkan. Suasana dalam pembelajaran diupayakan berlangsung secara menyenangkan. Menyenangkan bisa dibangun dengan berbagai kegiatan yang bisa mengakomodasi kegemaran peserta didik, misal bermain teka-teki, tebak kata, bernyanyi lagu anak-anak, menari atau kegiatan lain yang disepakati bersama dengan peserta didik. Menyenangkan tidak dimaksudkan banyak tertawa atau banyak bernyanyi. Menyenangkan lebih dimaksudkan ‘mengasyikan’.
  4. Pembelajaran peserta didik aktif. 
Selain itu, ada prinsip lainnya agar pembelajaran tematik-terpadu dapat terlaksana dengan baik yaitu:

Mengawali pembelajaran dengan mengesankan.

Kegiatan membuka pelajaran berkaitan dengan usaha guru dalam mengarahkan siswa pada kondisi belajar dan pembelajaran yang kondusif dan bermakna (meaningful learning). Paling tidak, dalam kegiatan membuka pelajran, guru perlu menumbuhkan perhatian siswa, membangkitkan motivasi belajar siswa, memberikan acuan, dan membuat kaitan-kaitan. Kegiatan membuka pelajaran yang mernarik, menyenangkan, dan mengesankan dan akan menjadikan siswa lebih mudah  memahami pelajaran yang akan diajarkan.

Memberikan informasi yang jelas, sistematis, dan interaktif.

Dalam memberikan penjelasan mengenai isi tema, informasi harus dijelaskan secara sistematis, sehingga siswa memiliki gambaran yang jelas tentang hubungan informasi yang satiu dengan lain. Selain menjelaskan isi tema, perlu juga diperbanyak kegiatan bertanya untuk memperoleh sesuatu objek dan meningkatkan terjadinya interaksi pembelajaran yang efektif.[22]

Memberikan penguatan secara tepat dan proporsional.

Memberi penguatan bia dilakukan dalam bentuk verbal dan nonverbal. Penguatan verbal bisa berupa kata-kata atau kalimat pujian, dukungan, serta pengakuan, atau dorongan yang dapat menguatkan tingkah laku dan penampilan siswa. Bentuk penguatan nonverbal ditunjukkan dengan cara-cara seperti raut muka, gerakan, atau isyarat badan (gesture reinforcement), gerakan mendekati siswa (proximity reinforcement),sentuhan (contact reinforcement), kegiatan yang menyenangkan, simbol atau tanda (token reinforcement), dan penguatan dengan benda atau barang.

Menciptaka variasi dan gaya mengajar.

Agar proses pembelajaran berlangsung efektif dan tidak menjenuhkan, maka perlu dilakukan variasi pembelajaran yang berkaiatan dengan gaya belajar guru (teaching style), penggunaan alat dan media pembelajaran, serta pola interaksi pembelajaran.

Memberikan penutup yang bermakna.

Bagian akhir dari kegiatan pembelajaran tematik ini juga perlu diperhatikan dalam upaya menciptakan pembelajaran yang efektif. Dalam hal ini, guru harus mengakhiri pembelajaran dengan kegiatan penutupan yang bermakna, misalnya meninjau kembali (review) apa yang telah dilakukan, melakukan penilaian hasil belajar, dan sebagainya.[23]

Bermuatan nilai, estetika, logika, dan kinestetika.

Maksudnya pembelajaran harus dapat memberikan gerak bagi anak untuk senantiasa mengembangkan apa yang ada pada diri peserta didik itu sendiri menjadi lebih baik. Dengan kata lain guru harus menjadi teladan bagi peserta didik dalam bersikap dan bertingkah laku, serta berpikir yang baik dalam setiap menghadapi berbagai persoalan yang bermunculan dalam kehidupan keseharian.[24]

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Pelaksanaan pembelajaran tematik di SD/MI secara keseluruhan merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang bersifat konstitusional, dilakukan secara runtut mulai dari kegiatan pendahuluan (awal),kegiatan inti, dan kegiatan penutup (akhir), di mana dalam ketiga tahapan ini terjadi proses pembelajaran yang menggunakan metode variatif, dan materi pembelajaran yang kontekstual. Prinsip pelaksanaan pembelajrannya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  1. Berpusat pada peserta didik.
  2. Pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
  3. Menggunakan prinsip belajar yang menyenangkan.
  4. Pembelajaran peserta didik aktif.
  5. Mengawali Pembelajaran dengan Mengesankan.
  6. Memberikan informasi yang jelas, sistematis, dan interaktif.
  7. Memberikan penguatan secara tepat dan proporsional.
  8. Menciptakan variasi dan gaya mengajar.
  9. Memberikan penutup yang bermakna.
  10. Bermuatan nilai, estetika, logika, dan kinestetika.

Baca juga tulisan terkait Tahapan Pengembangan Silabus Tematik  atau tulisan menarik lainnya di irfan.my.id

DAFTAR PUSTAKA

Daryanto, Pembelajaran Tematik, Terpadu, Terintegrasi (Kurikulum 2013). Yogyakarta: Gava Media. 2014.
Fadillah, Implementasi Kurikulum 2013: Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, & SMA/MA. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 2014.
Pedoman Pembelajaran Tematik dan Silabus Tematik Terpadu dalam Permendikbud No. 57/2014 tenatang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah.
Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Prastowo, Andi. Pengembangan Bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif. Jogjakarta: DIVA Press. 2013.
Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya. 2010.


[1] M. Fadillah, Impementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, &SMA/MA, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media), p. 181.
[2] Daryanto, Pembelajaran Tematik, Terpadu, Terintegrasi (Kurikulum 2013), (Yogyakarta: Gava Media), p. 31.
[3] Permendikbud No. 57/2014  tentang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, p. 5.
[4] Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, p. 2.
[5] Andi Prastowo, Pengembangan bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: DIVA Press), p. 384.
[6] Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya), p. 189.
[7] Pedoman Pembelajaran Tematik dan Silabus Tematik Terpadu dalam Permendikbud No. 57/2014 tenatang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, p. 240.
[8] Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, p. 10.
[9] Andi Prastowo, Pengembangan bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: DIVA Press), p. 385.
[10][10] M. Fadillah, Impementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, &SMA/MA, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media), p. 183.
[11] Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya), p. 190-191.
[12] Daryanto, Pembelajaran Tematik, Terpadu, Terintegrasi (Kurikulum 2013), (Yogyakarta: Gava Media), p.59
[13] Pedoman Pembelajaran Tematik dan Silabus Tematik Terpadu dalam Permendikbud No. 57/2014 tenatang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, p. 240.
[14] Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, p. 10.
[15] Andi Prastowo, Pengembangan bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: DIVA Press), p. 386-389.
[16] Pedoman Pembelajaran Tematik dan Silabus Tematik Terpadu dalam Permendikbud No. 57/2014 tenatang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, p. 240-241.
[17] Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya), p. 191.
[18] Permendikbud No. 103/2014 tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, p. 10.
[19] M. Fadillah, Impementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, &SMA/MA, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media), p. 187.
[20] Trianto, Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik, (Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya), p. 192.
[21] Pedoman Pembelajaran Tematik dan Silabus Tematik Terpadu dalam Permendikbud No. 57/2014 tenatang  Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah, p. 241.
[22] Andi Prastowo, Pengembangan bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: DIVA Press), p. 378.
[23] Andi Prastowo, Pengembangan bahan Ajar Tematik: Panduan Lengkap Aplikatif, (Jogjakarta: DIVA Press), p. 378-379..
[24] M. Fadillah, Impementasi Kurikulum 2013 Dalam Pembelajaran SD/MI, SMP/MTS, &SMA/MA, (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media), p. 180-181.

Protected by Copyscape