Teori belajar Yang Ideal Bagi Pendidikan Di Indonesia



Ketika kita membicarakan “teori belajar” pasti terdapat makna penting yang terdapat dalam dua kata tersebut. Dalam kamus Bahasa Indonesia  kata teori, bermkana ajaran tentang kaidah atau azas-azas suatu ilmu pengetahuan. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) teori adalah pendapat yg didasarkan pada penelitian dan penemuan, didukung oleh data dan argumentasi; penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu pasti, logika, metodologi, argumentasi. Sedangkan kata belajar Menurut Slavin dalam 


Catharina Tri Anni (2004), merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.

Dengan demikian teori belajar dapat disimpulkan sebagai 

ajaran tentang kaidah terhadap suatu ilmu pengetahuan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya.

Kini banyak teori belajar yang dapat digunakan para guru di Indonesia untuk berbagai keperluan belajar dan proses pembelajaran. Di artikel ini penulis akan membahas 5 teori belajar, yaitu teori belajar Behavioristik, teori belajar Kognitif dan teori belajar Humanistik, teori belajar Sibernetik dan teori belajar Konstruktivistik. Dan diantara kelima teori belajar ini, teori mana yang ideal bagi pendidikan di Indonesia

Teori Belajar Behavioristik

Menurut teori ini  belajar adalah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman. 
Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Teori belajar ini berfokus pada hasil yang dapat diukur dan diamati. Pengulangan dan pelatihan digunakan supaya perilaku yang dinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari penerapan teori behavioristik ini adalah terbentuknya suatu perilaku yang dinginkan (perilaku positif). Para ahli yang banyak berkarya dalam teori ini antara lain; Thorndike, Wathson, Hull, dan Skinner.

Teori belajar Kognitif

Menurut teori ini proses belajar lebih penting daripada hasil belajar itu sendiri. Dalam teori ini ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan.
Dalam teori belajar ini guru bukanlah sumber belajar utama dan bukan kepatuhan siswa yang dituntut dalam refleksi atas apa yang diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Para ahli yang banyak berkarya dalam teori  ini antara lain; Piaget, Ausubel, Brunner.

Teori belajar Humanistik

Menurut teori ini,tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses balajar dianggap berhasil jika si pelajar telah memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik- baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dari sudut pandang pengamatnya. Peran guru dalam teori ini adalah sebagai fasilitator bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna kehidupan siswa. Siswa berperan sebagai pelaku utama yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Para ahli yang banyak berkarya dalam teori  ini antara lain; Bloon, Krathowl, Kolb, Honey, Mumford, dan Habermas.

Teori belajar Sibernetik

Teori ini berkembang seiring dengan berkembangnya ilmu informasi. 

Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Proses memang peranan penting dalam teori sibernetik. Namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses. 
Informasi inilah yang akan menentukan proses.  Asumsi lain adalah bahwa tidak ada satu proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Para ahli yang mendukung  teori ini yaitu; Landa, Pask dan Scott.

Teori belajar Konstruktivistik

Teori ini lebih menekankan pada proses dan kebebasan dalam menggali pengetahuan serta upaya dalam membentuk pengalaman atau dengan kata lain teori ini memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlukan guna mengembangkan dirinya sendiri. 
Selain itu konstruktivistik memiliki asumsi bahwa siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui berbagai media yang ada. Artinya, posisi guru hanya sebagai mediator antara siswa dengan objek atau sumber belajarnya. Tokoh yang berpendapat dalam teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky

Dari beberapa teori belajar yang sudah dipaparkan diatas, teori belajar yang ideal bagi pendidikan di Indonesia adalah teori belajar behavioristik, kognitif, dan konstruktivistik. 
Karena penulis beranggapan ketiga teori belajar tersebut sudah tersalurkan dalam Kurikulum 13 dengan menggunakan konsep dasar saintifik. Sehingga pembelajaran dengan metode saintifik memiliki karakteristik sebagai berikut: berpusat pada siswa, melibatkan keterampilan proses sains dalam mengonstruksi konsep, hukum atau prinsip, melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi siswa dan dapat mengembangkan karakter siswa. Serta pembelajaran melibatkan keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses-proses tersebut, bantuan guru diperlukan, akan tetapi bantuan guru tersebut harus semakin berkurang dengan semakin tingginya kelas siswa.
 


Subscribe to receive free email updates: