Makalah tentang "STANDAR PENILAIAN UNTUK PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MI SESUAI REGULASI YANG BERLAKU"



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan madrasah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas. Hasil kegiatan belajar peserta didik yang berupa kemampuan kognitif dan psikomotor ditentukan oleh kondisi afektif peserta didik. Implikasi dari diterapkannya Standar Kompetensi dalam proses penilaian yang dilakukan oleh guru, baik yang bersifat formatif maupun sumatif harus menggunakan acuan kriteria.


Dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan dijelaskan, bahwa dalam rangka pengendalian mutu penilaian hasil belajar peserta didik oleh pendidik, satuan pendidikan, dan pemerintah perlu menyusun Standar Penilaian pendidikan.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Standar Penilaian dan hal-hal yang terkandung di dalamnya penulis mencoba membahasnya dalam sebuah makalah dengan judul “Standar Penilaian Untuk Pembelajaran Akidah Akhlak Di MI Sesuai Regulasi Yang Berlaku”.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Standar Penilaian?
2. Apa saja ruang lingkup Standar Penilaian untuk MI?
3. Bagaimana prinsip-prinsip penilaian dalam Standar Penilaian untuk MI?
4. Bagaimana teknik-teknik penilaian dalam Standar Penilaian untuk MI?
5. Bagaimana prosedur penilaian dalam Standar Penilaian untuk MI?
6. Bagaimana laporan penilaian dalam Standar Penilaian untuk MI?
7. Bagaimana program tindak lanjut hasil belajar dalam Standar Penilaian untuk MI?

C. Kerangka Teori

1. Standar Penilaian
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik.

2. Pembelajaran Akhidah Akhlak di MI
Akidah  merupakan akar atau pokok agama. Syari’ah/fikih (ibadah, muamalah) dan akhlak bertitik tolak dari akidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari keimanan dan keyakinan hidup. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT. dan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Hal itu menjadi sikap dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, Kebudayaan/seni, ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga/kesehatan, dan lain-lain) yang dilandasi oleh akidah yang kokoh.

Mata pelajaran Akidah Akhlak di MI berisi pelajaran yang dapat mengarahkan kepada pencapaian kemampuan peserta didik untuk dapat memahami rukun iman dengan sederhana serta pengamalan dan pembiasaan akhlak Islami secara sederhana, untuk dapat dijadikan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk ke jenjang berikutnya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Standar Penilaian

Menurut Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Standar Penilaian adalah kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan, Standar Penilaian adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar Peserta Didik. 

Dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 165 Tahun 2014 tentang Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab juga menjelaskan pengertian Standar Penilaian yang sama yaitu kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar Peserta Didik.

Dari tiga pengertian diatas, bila dikaitkan dengan Pembelajaran Akidah Akhlak di MI, maka dapat disimpulkan Standar Penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI yang dapat menjadi patokan adalah yang sesuai dengan Permendikbud No 23 Tahun 2016 yakni, kriteria mengenai lingkup, tujuan, manfaat, prinsip, mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik yang digunakan sebagai dasar dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Karena sudah disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan dalam penilaian hasil belajar.

B. Ruang Lingkup Standar Penilaian Untuk MI
Merujuk pada Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar peserta didik pada sekolah dasar dan pendidikan menengah meliputi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Concept Map berikut:




Dalam Keputusan Menteri Agama No. 165 Tahun 2014 dijelaskan bahwa, cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program, dan proses. Dalam bukunya, khalimi menjelaskan pula hasil peserta didik dapat diklasifikasikan kedalam tiga ranah (domain), yaitu: 1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika), 2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi, dengan kata lain kecerdasan emosional), dan 3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik, kecerdasan visual-spasial, dan kecerdasan musikal). 

Berdasarkan penjelasan dari dua peraturan tentang ruang lingkup diatas maka dapat disimpulkan, bahwa ruang lingkup standar penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI mencakup, yaitu penilaian  aspek/kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

C. Prinsip-Prinsip Penilaian Sesuai Standar Penilaian untuk MI
Menurut Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, maka prinsip-prinsip penilaian hasil belajar yang digunakan adalah sebagai berikut:
1. Sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
2. Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
3. Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4. Terpadu, berati penilaian merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5. Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
6. Menyeluruh dan Berkesinambungan, berarti penilaian mencakup semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik.
7. Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
8. Beracuan kriteia, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi mekanisme, prosedur, teknik, maupun hasilnya.
10. Ekonomis, berarti penilaian yang dilakukan efisien dan efektif dalam perencana, pelaksanaan, dan pelaporannya.
11. Edukatif, berarti mendidik, dan memotivasi peserta didik dan pendidik.

Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip penilaian hasil belajar untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI ada 11, yaitu sahih, objektif, adil terpadu, terbuka, menyelurh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, akuntabel, ekonomis dan edukatif. Karena antara prinsip-prinsip yang terdapat dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 dengan Keputusan Menteri Agama No. 165 Tahun 2014 saling mengisi satu sama lain.

D. Teknik-Teknik Penilaian Sesuai Standar Penilaian untuk MI
Penilaian untuk pembelajaran Akidah-Akhlak di MI pada kurikulum 2013 menggunakan jenis penilaian autentik. Penilaian autentik (Authentic assesment) yaitu penilaian yang berfokus menilai kesiapan siswa, proses, dan hasil belajar secara utuh. Maka dari itu penilaian hasil belajar peserta didik mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dilakukan secara berimbang.

Teknik yang digunakan untuk penilaian kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai berikut:
1. Penilaian aspek sikap, pendidik melakukan penilaian melalui observasi/pengamatan dan teknik lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru kelas.
2. Penilaian aspek pengetahuan, pendidik melakukan penilaian melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai.
3. Penilaian aspek keterampilan, pendidik melakukan penilaian melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai.

Sedangkan untuk instrumen penilaian yang digunakan oleh pendidik dalam bentuk penilaian berupa tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik.

Dalam Keputusan Menteri Agama No. 165 Tahun 2014 dijelaskan pula mengenai penilaian aspek sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat (peer evaluation) oleh peserta didik dan jurnal. Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antar peserta didik adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubik., sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik. Pendidik menilai aspek pengetahuan yang dicapai peserta didik melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan Saat melaksanakan penilaian kompetensi pengetahuan, pendidik bisa  menyiapkan instrumen penilaian yang meliputi; 1) Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran. 2) Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan yang akan ditanyakan pada peserta didik berserta pedoman penskorannya. 3) Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas yang akan dikerjakan peserta didik. Seorang pendidik harus menilai aspek keterampilan melalui penilaian kerja, tes praktik, projek, dan portofolio. Dalam penilaian aspek keterampilan instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi rubrik. Dalam bukunya, Andi menerangkan dalam penilaian sikap juga bisa dengan teknik wawancara langsung maupun berpedoman dengan menggunakan instrumen daftar pertanyaan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan, bila dikaitkan dengan teknik-teknik penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI bahwa dua peraturan tersebut saling mengisi satu sama lain. Dimana dalam penilaian aspek sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh peserta didik, jurnal dan wawancara.  Dalam penilaian aspek pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Dan dalam penilaian aspek keterampilan pendidik dapat menilai melalui penilaian kerja, tes praktik, projek, dan portofolio.

E. Prosedur Penilaian Sesuai Standar Penilaian untuk MI?
Berdasarkan Permendikbud No 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan, prosedur penilaian antara lain:
1. Prosedur Penilaian Aspek.

a. Penilaian  aspek sikap dilakukan melalui tahapan:
1) Mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran.
2) Mencatat perilaku peserta didik dengan menggunakan lembar observasi/pengamatan.
3) Menindaklanjuti hasil pengamatan.
4) Mendeskripkan perilaku peserta didik.

b. Penilaian aspek pengetahuan dilakukan melalui tahapan:
1) Menyusun Perencanaan penilaian.
2) Mengembangkan instrumen penilaian.
3) Melaksanakan penilaian.
4) Memanfaatkan hasil penilaian.
5) Melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan  deskripsi.

c. Penilaian aspek keterampilam dilakukan melalui tahapan:
1) Menyusun perencanaan penilaian.
2) Mengembangkan instrumen penilaian.
3) Melaksanakan penilaian.
4) Memanfaatkan hasil penilaian.
5) Melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala0-100 dan  deskripsi.

2. Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar
a. Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan urutan:
1) Menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun.
2) Menyusun kisi-kisi penilaian.
3) Membuat instrumen penilaian berikut pedoman penilaian.
4) Melakukan analisis kualitas instrumen.
5) Melakukan penilaian.
6) Mengolah, menganalisis, dan mengintrerpretasikan hasil penilaian.
7) Melaporkan hasil penilaian.
8) Memanfaatkan laporan hasil penilaian

b. Prosedur penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan dengan mengkoordinasikan kegiatan dengan urutan:
1) Menetapkan KKM.
2) Menyusun kisi-kisi penilaian mata pelajaran.
3) Menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya.
4) Melakukan analisis kualitas instrumen.
5) Melakukan penilaian.
6) Mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian.
7) Melaporkan hasil penilaian.
8) Memanfaatkan laporan hasil penilaian.

c. Prosedur penilaian hasil belajar oleh pemerintah dilakukan dengan urutan:
1) Menyusun kisi-kisi penilaian.
2) Menyusun instrumen penilaian dan pedoman penskorannya.
3) Melakukan analisis kualitas instrumen.
4) Melakukan penilaian.
5) Mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian.
6) Melaporkan hasil penilaian.
7) Memanfaatkan laporan hasil penilaian.

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan dalam bentuk ulangan, pengamatan, penugasan,dan bentuk lain yang diperlukan. Penilaian hasil belajar satuan pendidikan dilakukan dalam bentuk ujian sekolah/madrasah. Penilaian hasi belajar oleh Pemerintah dilakukan dalam bentuk ujian nasional dan/atau bentuk lain yang diperlukan.
Penilaian hasil belajar dilakukan dalam bentuk penilaian otentik, penilaian diri, penilaian projek, ulangan harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester, Ujian Tingkat Kompetensi, Ujian Tingkat Mutu Kompetensi, Ujian Sekolah, dan Ujian Nasional.

Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa prosedur penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI ada tiga yaitu, prosedur penilaian aspek, prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar. Selanjutnya penjelasan dari Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang bentuk penialain pun didukung  oleh Abdul Majid dalam bukunya yang berjudul “Implementasi Kurikulum 2013”.

F. Laporan Penilaian Sesuai Standar Penilaian untuk MI
Laporan hasil penilaian oleh pendidik disampaikan kepada kepala sekolah madrasah dan pihak lain yang terkait (waka. Kurikulum, wali kelas, pendidik Bimbingan dan Konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang ditentukan. Laporan tersebut merupakan sarana komunikasi dan kerjasama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat yang bermanfaat baik bagi kemajuan belajar peserta didik maupun pengembangan sekolah. Pelaporan hasil belajar hendaknya memuat:
1. Rincian hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.
2. Informasi yang jelas, komperhensif, dan akurat tentang perkembangan peserta didik.
3. Bahan informasi kepada orang tua tentang perkembangan hasil belajar anaknya.

Hasil penilaian pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi. Laporan hasil belajar berupa data kompetensi peserta didik yang dibuat oleh guru dan wali kelas. Data yang dibuat guru berupa daftar nilai dalam bentuk buku dan lembaran yang menggambarkan seluruh kompetensi mata pelajaran tertentu. Data yang disajikan wali kelas/guru kelas berupa gambaran seluruh kompetensi yang disajikan dalam bentuk angka dan deskripsi setiap kompetensi inti (KI) sebagai laporan kepada orang tua melaui satuan pendidikan.

Bentuk laporan dapat berupa lembaran, buku, dan buku yang disertai lembaran. Laporan dalam bentuk lembaran hendaknya memuat seluruh informasi tentang kemajuan peserta didik secara menyatu. Laporan berupa buku mendeskripsikan seluruh kompetensi untuk disampaikan kepada orang tua peserta didik secara berkala. Laporan berupa buku dan lembaran memuat seluruh kompetensi secara terpisah. Buku laporan berisi informasi kompetensi inti 3 dan 4 (KI 3 dan KI 4), sedangkan lembaran secara terpisah mendeskripsikan kompetensi inti 1 dan 2 (KI-1 dan KI-2).

Laporan hasil belajar memuat informasi sebagai berikut.
1. Identitas peserta didik.
2. Perkembangan peserta didik secara akademik, fisik, sosial emosional. dan ketakwaan menurut agamanya.
3. Potensi peserta didik yang perlu dikembangkan.
4. Partisipasi peserta didik dalam kegiatan di sekolah.
5. Rekomendasi bagi peserta didik san orang tua/wali.
6. Tanda tangan wali kelas, Kepala Sekolah dan orang tua/wali peserta didik.

Rekapitulasi nilai merupakan rekap kemajuan belajar peserta didik oleh guru, yang berisi informasi tentang pencapaian kompetensi peserta didik untuk setiap KD, dalam kurun waktu 1 semester. Tahapan pencapaian kompetensi peserta didik dalam rekapitulasi nilai ini meliputi nilai KD, nilai-nilai remedial serta nilai pengayaan. Nilai tiap KD diperoleh dari nilai proses dan nilai akhir. Rekap nilai diperlukan sebagai alat kontrol bagi guru tentang perkembangan hasil belajar peserta didik, sehingga diketahui kapan peserta didik memerlukan remedial ataupun pengayaan. Nilai yang ditulis merupakan rekap nilai setiap KD dari setiap aspek penilaian. Rata-rata nilai KD dalam setiap aspek akan menjadi nilai pencapaian kompetensi untuk aspek yang bersangkutan. Khusus KD pada KD I dan KD II, isinya dalam bentuk deskripsi profil sikap peserta didik secara holistik untuk satu semester.

Laporan hasil penilaian oleh pendidik dapat berbentuk: 1) nilai dan /atau deskripsi pencapaian kompetensi, untuk hasil penilaian aspek pengetahuan dan keterampilan termasuk penilaian hasil pembelajaran tematik-terpadu khususnya pada tringkat dasar, 2) deskripsi sikap, untuk hasil penilaian aspek sikap spiritual dan sikap sosial. Penilaian aspek sikap spritual dan sosial dilakukan oleh semua pendidik selama satu semester, hasilnya diakumulasi dan dinyatakan dalam bentuk deskripsi  oleh wali kelas/ pendidik kelas. 

Laporan hasil penilaian pendidikan akhir semester dan akhir tahun dan kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik ditetapkan dalam rapat dewan pendidik berdasar hasil penilaian oleh Satuan Pendidikan dan hasil penilaian oleh Pendidik. 

Laporan Penilaian hasil oleh satuan pendidikan meliputi melaporkan hasil pencapaian kompetensi dan/atau tingkat kompetensi kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk buku rapor. Rapor adalah laporan kemajuan belajar peserta didik dalam kurun waktu satu semester. Rapor berisi informasi tentang pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Masing-masing sekolah boleh menetapkan sendiri model rapor yang dikehendaki. Nilai rapor adalah nilai mata pelajaran yang menggambarkan kemampuan peserta didik. Nilai tersebut diperoleh dengan cara menggabungkan nilai proses (nilai harian, tugas, pengamatan) dan nilai akhir (nilai UTS dan UAS/UKK). Bobot nilai proses tidak lebih kecil dari nilai akhir. Selanjutnya melaporkan pencapaian hasil belajar tingkat satuan pendidikan kepada bidang pendidikan madrasah Kementerian Agama Kabupaten/Kota dan instansi lain yang terkait. Dan yang terakhir melaporkan hasil ujian kompetensi kepada orang tua/wali peserta didik dan bidang pendidikan madrasah Kementerian Agama Kabupaten/Kota Dan Provinsi. Laporan penilaian oleh Pemerintah berkaitan dengan Ujian Nasional, Ujian Madrasah Berstandar Nasional dan Ujian Mutu Tingkat Kompetensi. 

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan, bahwa isi dalam dua peraturan tersebut saling berkaitan dalam menjelaskan laporan penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI. Dimana laporan penilaian tersebut terdiri atas Pelaporan penilaian oleh Pendidik, pelaporan penilaian oleh Satuan Pendidikan, dan Pelaporan penilaian oleh Pemerintah.

G. Program Tindak Lanjut Hasil Belajar Sesuai Standar Penilaian untuk MI
Program tindak lanjut merupakan tindakan guru untuk memberikan pelayanan pendidikan pada peserta didik yang membutuhkan melalui kegiatan remedial dan pengayaan. Program tindak lanjut diperuntukkan bagi peserta yang sangat tuntas dan belum tuntas. Belajar tuntas adalah suatu sistem belajar yang menginginkan sebagian besar peserta didik dapat menguasai tujuan pembelajaran secara tuntas. Belajar tuntas harus menggunakan strategi pembelajaran yang berasaskan maju berkelanjutan (continuous progress). Untuk itu, standar kompetensi dan kompetensi dasar harus dinyatakan secara jelas, dan pembelajaran dipecah-pecah ke dalam satuan-satuan, dimana peserta didik belajar selangkah demi selangkah dan baru boleh beranjak mempelajari kompetensi daar berikutnya setelah menguasai suatu atau sejumlah kompetensi dasar yang ditetapkan menurut kriteria tertentu.

Sangat tuntas artinya peserta didik yang mencapai nilai jauh melampaui KKM. Peserta didik yang masuk kategori sangat tuntas diberikan program pengayaan. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran pengayaan dapat dilakukan melalui: belajar kelompok, belajar mandiri, pembelajaran berbasis tema, dan pemadatan kurikulum.

Sedangkan bagi peserta didik yang belum mencapai ketuntasan KKM satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran remedi. Oleh karena itu, sebelum menentukan kegiatan remedial yang akan dilakukan oleh guru, terlebih dahulu diidentifikasi untuk melihat permasalahan yang dihadapi peserta didik yang akan mengikuti program remedial. Sebaiknya program remedial dilakukan secara individual, karena setiap peserta didik memiliki karakteristik permasalahan dan kebutuhan masing-masing. Setelah peserta didik mengikuti kegiatan remedial, lalu dilakukan penilaian kembali untuk melihat pencapaian kompetensi yan telah ditentukan, kalau sudah tuntas dapat melanjutkan kompetensi dasar (KD) berikutnya. Sebaiknya, sebelum mengikuti KD berikutnya, peserta didik diharuskan tuntas pada KD sebelumnya. Hal ini dikarenakan antara KD yang sebelumnya dengan KD berikutnya saling berhubungan. Kegiatan remedial dapat berupa tatap muka dengan guru atau diberi kesempatan untuk belajar sendiri, kemudian dilakukan penilaian dengan cara: menjawab pertanyaan, membuat rangkuman pelajaran, atau mengerjakan tugas mengumpulkan data.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan, bahwa hal yang dijelaskan dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016, Keputusan Menteri Agama No. 165 Tahun 2014, dan buku dari Kunandar saling berkaitan antara satu dengan yang lain dalam menerangkan program tindak lanjut hasil belajar sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI. Dimana hal yang perlu digaris bawahi yaitu, Program tindak lanjut merupakan tindakan guru untuk memberikan pelayanan pendidikan pada peserta didik yang membutuhkan melalui kegiatan remedial dan pengayaan.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Standar penilaian merupakan kriteria pengumpulan data yang dapat memberikan gambaran perkembangan peserta didik dalam proses pembelajaran. Ruang lingkup diatas maka dapat disimpulkan, bahwa ruang lingkup standar penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI mencakup, yaitu penilaian  aspek/kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Prinsip-prinsip penilaian hasil belajar untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI ada 11, yaitu sahih, objektif, adil terpadu, terbuka, menyelurh dan berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria, akuntabel, ekonomis dan edukatif.

Teknik-teknik penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI bahwa dua peraturan tersebut saling mengisi satu sama lain. Dimana dalam penilaian aspek sikap melalui observasi, penilaian diri, penilaian “teman sejawat” (peer evaluation) oleh peserta didik, jurnal dan wawancara.  Dalam penilaian aspek pengetahuan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan. Dan dalam penilaian aspek keterampilan pendidik dapat menilai melalui penilaian kerja, tes praktik, projek, dan portofolio. Untuk prosedur penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI ada tiga yaitu, prosedur penilaian aspek, prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar.

Laporan penilaian sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI. Dimana laporan penilaian tersebut terdiri atas Pelaporan penilaian oleh Pendidik, pelaporan penilaian oleh Satuan Pendidikan, dan Pelaporan penilaian oleh Pemerintah. Selanjutnya program tindak lanjut hasil belajar sesuai standar penilaian untuk pembelajaran Akidah Akhlak di MI yaitu, Program tindak lanjut merupakan tindakan guru untuk memberikan pelayanan pendidikan pada peserta didik yang membutuhkan melalui kegiatan remedial dan pengayaan.

DAFTAR PUSTAKA

Khalimi. Pembelajaran Akidah-Akhlak. Jakarta: Dirjen Pendis Departemen Agama Republik Indonesia. 2009.
Kunandar. Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Jakarta: Rajagrafindo Persada. 2013.
Majid, Abdul, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2012.
Majid, Abdul, Implementasi Kurikulum 2013. Bandung: Interes Media. 2014.
Majid, Abdul. Pembelajaran Tematik Terpadu. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2014.
Menteri Agama, "Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab”, Keputusan Menteri Agama No. 165/2014 tentang, Tanggal 31 Desember 2014
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, “Standar Nasional Pendidikan”, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 13 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005, Tanggal 6 Maret 2015.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, “Standar Penilaian Pendidikan”, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No.  23 Tahun 2016, Tanggal 6 Juni 2016
Prastowo, Andi, Pembelajaran Konstruktivistik-Scientific untuk Pendidikan Agama di Sekolah/Madrasah: Teori, Aplikasi, dan Riset Terkait. Jakarta: RajaGrafindo Persada. 2015.

Subscribe to receive free email updates: